Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bahasa Bali Semakin Tergerus, Orangtua Jarang Mengajarkan, Generasi Muda Enggan Mabasa Bali

Survei dilakukan dengan cara mewawancai secara mendalam sebanyak 51.513 orang di seluruh Bali.

Tayang:
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Peserta Festival Bahasa Bali mengerjakan tulisan di sisi timur Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar, Kamis (23/2/2016). 

"Nah temuannya seperti itu. Memang ada beberapa yang kondisinya rendah," jelasnya, kemarin.

Dosen Bahasa Bali FKIP Universitas Dwijendra, Dewa Ayu Carma Citrawati, membenarkan fenomena rendahnya penggunaan bahasa Bali berdasarkan survei penyuluh tersebut.

Hal ini juga identik dengan penelitian kecil-kecilan yang dilakukannya belum lama ini.

“Kebetulan saya baru selesai penelitian kecil-kecilan terkait hal ini untuk workshop,” katanya kepada Tribun Bali, Jumat (14/12/2018).

Dari hasil wawancara dengan anak-anak di kota Denpasar ihwal hal tersebut, hasilnya mereka mengaku suka pelajaran Bahasa Bali.

Bahkan dari 21 responden, yang diberikan kuesioner, sebagian besar mengatakan suka karena gurunya mengajar dengan kekinian, banyak lagu, satua, dan sebagainya.

Namun, saat anak-anak ditanya apa di rumah menggunakan bahasa Bali untuk komunikasi, setengah lebih anak-anak menjawab tidak pernah.

Sehari-hari mereka menggunakan bahasa Indonesia.

“Ini berarti pandangan mereka terhadap pelajaran Bahasa Bali masih positif, tetapi faktor lingkungan dan motivasi tidak mendukung mereka. Mereka pun tidak menggunakan bahasa Bali di manapun, selain di sekolah,” jelas wanita asli Klungkung ini.

Citrawati bahkan membuat video, yang menegaskan bahwa pelajaran Bahasa Bali menarik menurut anak-anak di sekolah.

Apalagi saat diajak sambil bernyanyi dan mendongeng.

“Tapi karena putusnya penggunaan di rumah, dan orangtua serta lingkungan tak lagi menggunakan bahasa Bali, maka fenomena seperti sekarang terjadi,” katanya.

Solusinya, kata dia, tentu semua harus bergerak bersama, ketika mengenalkan sesuatu yang dianggap kurang penting perlu usaha ekstra.

“Semakin sering digemakan bahwa bahasa Bali itu penting, dan dibuat kegiatan yang akhirnya mendekatkan generasi muda dengan bahasa Bali tentu akan membantu juga,” imbuhnya. Layaknya perasaan suka dan cinta ke seseorang yang harus didahului dengan mengenal terlebih dahulu.

“Seperti pepatah tak kenal maka tak sayang,” ujarnya sembari tersenyum simpul.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved