Pernikahan ‘Manusia Langka’ dan Dayu Kenari di Ubud, Budiarsa: ‘Semoga Tuhan Memberi Kami Jalan’
Pernikahan keduanya di Ubud, Gianyar, Bali menarik perhatian publik karena Budiarsa bukan sosok yang biasa. Bahkan ia disebut sebagai “manusia langka
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Meskipun dalam kondisi difabel, rentetan pernikahannya sama seperti orang normal.
Mulai dari prewedding, ritual ala Hindu, resepsi, bahkan ia juga diberikan voucer bulan madu di sebuah hotel di Ubud.
Namun karena kondisi fisik kedua calon pengantin tak normal, prosesi prewedding yang mengambil lokasi di tiga tempat, memakan waktu tiga hari.
“Sesi fotonya tiga lokasi, di Kebun Raya Bedugul, Pantai Melasti, dan Desa Wisata Penglipuran. Karena kondisi kami seperti ini, dan jaraknya jauh, satu lokasi satu hari, sehingga sesi foto menghabiskan waktu tiga hari. Pemotretannya gratis karena ada yang membantu, cuma pakaiannya saja yang sewa,” ujarnya.
Dalam pernikahan ini, Budiarsa menghabiskan biaya sekitar Rp 50 juta.
Terkait tamu undangan, Budiarsa mengatakan hanya menyebarkan 120 undangan. Namun yang hadir mencapai 1.000 orang, termasuk istri Kapolda Bali, istri Wali Kota Denpasar, dan pejabat-pejabat di Kabupaten Gianyar.
“Saya sebar undangan hanya 120 lembar, tapi lewat Fcebook, WhatsApp juga, sehingga yang hadir sampai 1.000 orang,” ujarnya.
Lalu bagaimana kisahnya, sampai ia menemukan belahan hati?
Budiarsa mengatakan, hal tersebut terjadi saat dirinya mengelola sebuah yayasan difabel yang tak mau dia sebutkan namanya.
Lantaran terus bertemu setiap hari, dan melihat karakter Dayu Kenari yang penyabar, rasa cintanya pun tumbuh.
“Kami pacaran selama 6 tahun. Dalam masa pacaran, tidak ada keromantisan. Tapi, kalau satu pihak tidak ada atau tidak bertemu karena sakit, rasa kehilangan sangat besar. Dengan pertimbangan matang, akhirnya kami pun memutuskan untuk menikah,” ujarnya sumringah.
Dengan kondisi yang tidak normal, kata Budiarsa, banyak pihak yang berpikir bahwa pernikahan itu mustahil.
“Kalau lama pacaran, kami takut akan terlambat mengambil keputusan. Kami coba berpikir positif, semoga Tuhan memberikan kami jalan. Kehidupan ini adalah drama, salah satu drama terbesar adalah pernikahan. Kami yakin Tuhan akan memberikan jalan terbaik,” ujarnya.
Lalu, bagaimana dengan statusnya di banjar atau desa adat?
Budiarsa mengatakan, prajuru adat setempat telah memberikannya keringanan.