Bisikan yang Keras Menyentil
Kartun Ber(b)isik. Demikian tema pameran dari enam kartunis mumpuni tanah air yang dihadirkan di Bentara Budaya Bali, Gianyar
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Irma Budiarti
Bahkan Didie di sana membubuhkan teks yang makin menguatkan betapa para koruptor tersebut seakan sudah putus urat malunya dengan mengatakan, “Yang ukuran XL, mana?”
Namun gambaran-gambaran yang membuat publik gerah itu kemudian disejukkan dengan karya Ika W Burhan, “Cieee Pelukan”, (stoneware, tehnik pinch dan slab, dimensi variasi, 2018).
Kehadiran dua patung laki-laki yang tengah berpelukan berbalut bendera Merah Putih itu seketika mengingatkan kita akan sosok dua calon Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
“Para kartunis ini juga ingin mengajak generasi milenial untuk melakukan kritik secara santun sebagai anggota masyarakat yang beradab. Mereka mengajak kita mengingat bahwa kemajuan bangsa memiliki dampak positif-negatif. Untuk itu diperlukan cara menyikapi secara bijak,” ungkap Frans Sartono.
Mencermati karya ke enam kartunis itu, tentu kita akan diingatkan bahwa meramu kata dan rupa dalam satu karya, tentu bukanlah perkara mudah.
Diperlukan kematangan, kejelian, serta kehati-hatian agar kritik tepat sasaran dan tidak kontraproduktif.
Kehadiran kartun-kartun tersebut kembali membuka memori kita akan adanya budaya kritik yang terarah dan bertanggung jawab, terlebih di era digital kini yang banyak hal menjadi bias.
Kian sulit dibedakan antara kenyataan dan ke’maya’an yang diramu hingga terkesan lebih nyata dari kenyataan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/karya-yang-dipamerkan-dalam-pameran-kartun-berbisik3.jpg)