Simpang Ring Banjar

Desa Bresela Gianyar Pusatnya Penghasil Dulang Ukir, Anak Muda Mulai Lirik Potensi Pasarnya

Pusat pemasok kerajinan dulang, khususnya yang terbuat dari fiber berada Desa Bresela, Kecamatan Payangan, Gianyar

Tribun Bali/Eri Gunarta
Usaha kerajinan dulang menjadi usaha yang paling banyak digeluti masyarakat Bresela, Payangan, Gianyar. 

Satu di antaranya, I Made Suarjana (30). Lantaran pesatnya permintaan dulang oleh masyarakat, iapun memilih untuk ikut berkecimpung dalam usaha ini.

Meski baru membuka usahanya sejak tiga tahun lalu, Suarjana juga menjadi pemasok dulang di sejumlah pasar-pasar besar di luar Gianyar.

“Ada seller yang datang nyari ke sini, biasanya dijual di Klungkung, Tabanan pokoknya seluruh Bali. Bahkan ada juga yang dikirim ke Sulawesi hingga ke Lombok,” ujarnya.

Fiber Lebih Murah
Dalam memenuhi permintaan pasar, yakni kualitas bagus dengan biaya murah, para pengusaha dulang di Banjar Gadungan, dan banjar lainnya di Desa Bresela pun terpaksa menggunakan bahan fiber.

Biaya produksinya jauh lebih murah daripada menggunakan bahan kayu menjadi alasan mereka.

Sejumlah masyarakat sedang mengecat dulang yang nantinya dipasarkan ke seluruh Bali, Kamis (2/5/2019). Usaha ini mendominasi usaha yang digeluti masyarakat Bresela, Payangan.
Sejumlah masyarakat sedang mengecat dulang yang nantinya dipasarkan ke seluruh Bali, Kamis (2/5/2019). Usaha ini mendominasi usaha yang digeluti masyarakat Bresela, Payangan. (Tribun Bali/Eri Gunarta)

Namun sisi negatifnya, limbah fiber ini jika dibuang sembarangan, akan sangat merusak lingkungan. Terlebih lagi, limbahnya tak bisa terurai oleh bakteri, dan jika dibakar asapnya sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Pengusaha Dulang Fiber, I Made Suarjana mengatakan, selisih harga dulang yang terbuat dari fiber dengan kayu sangat jauh. Jika menggunakan kayu, harga produksinya hingga penjualannya mencapai Rp 1 juta lebih.

Sementara jika menggunakan dulang, dirinya bisa menjualnya dengan harga sekitar Rp 300 ribu. Namun dari harga murah ini, kata dia, sebenarnya ada hal yang harus dibayar mahal, yakni kerusakan lingkungan.

“Limbah fibernya sulit untuk diurai, kalau dibakar, tidak dikasi bakar oleh pihak desa. Karena polusinya luar biasa,” ujarnya.

Dalam hal ini, Suarjana memilih untuk menyimpan limbah fiber tersebut dalam karung.  Hasil pengumpulan tersebut selama ini, dipakainya untuk mengganjal tanah sawahnya, jika mengalami longsor di musim hujan.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved