Ramadan 2019

Imsak Hanya Ada di Indonesia? Benarkah Tanda Dimulainya Waktu Puasa? Ini Sejarah & Pandangan Ulama

Imsak Hanya Ada di Indonesia? Benarkah Tanda Dimulainya Waktu Puasa? Ini Sejarah & Pandangan Ulama

Imsak Hanya Ada di Indonesia? Benarkah Tanda Dimulainya Waktu Puasa? Ini Sejarah & Pandangan Ulama
Thepeepspot via Tribunnews
Ilustrasi sahur puasa ramadan. Imsak Hanya Ada di Indonesia? Benarkah Tanda Dimulainya Waktu Puasa? Ini Sejarah & Pandangan Ulama 

Dan masyarakat maklum, bila telah terdengar kata “imsak” dikumandangkan mereka serta merta menghentikan aktivitas makan dan minum yang terangkai dalam kegiatan sahur.

Memang demikian adanya. Sebagian masyarakat Muslim memahami bahwa datangnya waktu imsak adalah awal dimulainya ibadah puasa.

Pada saat itu segala kegiatan makan minum dan lainnya yang membatalkan puasa harus disudahi hingga datangnya waktu maghrib di sore hari.

Namun demikian sebagian masyarakat Muslim juga bertanya-tanya, benarkah waktu imsak sebagai tanda dimulainya puasa?

Lalu bagaimana sesungguhnya fiqih mengatur awal dimulainya ibadah yang termasuk salah satu rukun Islam ini?

Benarkah imsak menjadi waktu awal dimulainya seseorang menahan lapar dan dahaga?

Mengutip NU Online, dalam tulisan berjudul Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa?, disebutkan bila mencermati beberapa penjelasan para ulama dalam berbagai kitabnya akan bisa dengan mudah diambil satu kesimpulan kapan sesungguhnya ibadah puasa itu dimulai dan apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan waktu imsak.

Baca: Video Viral Detik-detik Pesawat Sukhoi Superjet 100 Terbakar & Tewaskan 41 Orang, Situasi Dramatis

Baca: Pemeriksaan Estafet Sejak Februari 2019, Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Lahan Kantor Desa Selat

Imam Al-Mawardi di dalam kitab Iqna’-nya menuturkan:

وزمان الصّيام من طُلُوع الْفجْر الثَّانِي إِلَى غرُوب الشَّمْس لَكِن عَلَيْهِ تَقْدِيم الامساك يَسِيرا قبل طُلُوع الْفجْر وَتَأْخِير (الْفطر) يَسِيرا بعد غرُوب الشَّمْس ليصير مُسْتَوْفيا لامساكمَا بَينهمَا

“Waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar kedua sampai tenggelamnya matahari. Akan tetapi (akan lebih baik bila) orang yang berpuasa melakukan imsak (menghentikan makan dan minum) sedikit lebih awal sebelum terbitnya fajar dan menunda berbuka sejenak setelah tenggelamnya matahari agar ia menyempurnakan imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa) di antara keduanya.” (lihat Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Al-Iqnaa’ [Teheran: Dar Ihsan, 1420 H] hal. 74)

Halaman
1234
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved