Mahasiswa Unud Teliti Istilah Bahasa Bali yang Mulai Memudar dan Hilang
Dalam pemaparannya, Devy mengungkapkan ada banyak istilah permainan tradisional yang mulai tergerus, bahkan sudah tak digunakan.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tiga mahasiswa Jurusan Bahasa Bali Unud memaparkan hasil penelitiannya tentang istilah dalam bahasa Bali dalam Seminar Linguistik, Senin (27/5/2019) di Ruang Ir. Soekarno, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud).
Ketiga mahasiswa ini yakni Putu Devy Widayanti, I Gede Bagus Wistara Jaya Negara dan Ida Ayu Agung Tirtayani.
Putu Devy Widayanti memaparkan penelitiannya tentang Kamus Bali-Indonesia Bidang Istilah Permainan Tradisional Rakyat Bali.
Dalam pemaparannya, Devy mengungkapkan ada banyak istilah permainan tradisional yang mulai tergerus, bahkan sudah tak digunakan.
Sebagai sebuah dokumentasi kebahasaan, istilah dalam permainan tradisional dinyatakan turut berkontribusi pada pembentukan pola hidup masyarakat Bali.
Baca: Buda Prayuda dan Prastika Dewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2019
Baca: Tujuh Ketentuan Dalam Stressing Kata Bahasa Rusia
"Dari sini juga dapat dirunut perubahan pola hidup masyarakat Bali yang terjadi, termasuk daya dukung ekologi Bali saat ini terhadap kehidupan masyarakat," kata Devy.
Ia memaparkan permainan tradisional Bali dapat dibagi menjadi permainan anak-anak, permainan dalam bentuk judi dan permainan tradisi yang digelar dalam waktu dan di daerah tertentu.
Dari hasil penelitiannya, banyak istilah permainan itu yang kurang dikenal, misal macinglak, majaksa-jaksaan, mabedil-bedilan, mageri-gerian, macepetan, dan lain-lain.
"Kata-kata ini tidak dikenal karena jartang lagi dimainkan, dan salah satu sebab jarang dimainkan itu lantaran lingkungan yang tidak lagi mendukung,” paparnya.
I Gede Bagus Wistara Jaya Negara membawakan hasil penelitiannya yang bertajuk Bahasa Bali dalam Ritus Pengilen Pemangku di Pura Ratu Agung Kesiman: Kajian Struktur dan Fungsi.
Penelitian ini membahas terkait penggunaan bahasa Bali dalam doa-doa agama Hindu di Bali.
Doa non-Sanskerta itu disebut dengan istilah seha.
Baca: Tidak Hanya Bahasa dan Sastra, Penyuluh Bahasa Bali juga Diharapkan Menguasai Seni Budaya
Baca: Prodi Kesehatan Ayurweda Fakultas Kesehatan UNHI Gelar Pelayanan Kesehatan Tradisional
"Selama ini di kalangan agamawan ada kesan yang seakan membedakan nilai antara seha (yang berbahasa Bali) dengan mantra (yang berbahasa Sanskerta). Mantra cenderung dianggap lebih tinggi nilainya daripada seha," katanya.
Sementara, Ida Ayu Agung Tirtayani menyampaikan materi tentang Kamus Bali-Indonesia Bidang Istilah Pediksan.
Ia menemukan banyak istilah dalam proses pentasbihan seorang pendeta Hindu di Bali kurang dipahami.
"Istilah-istilah yang ada dalam proses pediksaan berbeda, misalnya istilah untuk anting dan genitri yang dipakai di telinga sulinggih itu berbeda, meski kelihatan mirip," katanya.
Baca: Bukan Sekadar Mitos, Penelitian Ungkap Kecerdasan Anak Diturunkan dari Ibu
Dosen Sastra Bali Unud, Putu Eka Guna Yasa, mengatakan tujuan pelaksanaan seminar adalah memberikan pengalaman langsung pada mahasiswa untuk menyajikan hasil kajiannya.
"Kami harap mimbar akademik di prodi Sastra Bali Udayana akan terbuka dan berputar sesuai dengan nama logo Unud, Widya Cakra Prawartana," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pelaksanaan-seminar-linguistik-di-fib-unud.jpg)