Penerapan E-Ticketing Belum Jelas, Pemkab Baru Bahas Konsep Penggunaan
Pemkab Tabanan kembali membahas rencana penerapan e-ticketing di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Irma Budiarti
Penerapan E-Ticketing Belum Jelas, Pemkab Baru Bahas Konsep Penggunaan
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Pemkab Tabanan kembali membahas rencana penerapan e-ticketing di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot di Ruang Rapat Asisten I Sekda Tabanan di Kantor Bupati Tabanan, Kamis (8/8/2019).
Namun, belum dapat dipastikan kapan rencana ini akan berjalan.
Sebab, saat ini pembahasannya baru sampai ke konsep penggunaan e-ticketing.
Asisten I Sekda Tabanan, I Wayan Miarsana mengatakan, pembahasan terkait rencana penerapan e-ticketing saat ini baru sampai menyusun konsep-konsep bangunan sistemnya.
"Itu masih menyusun konsep. Itu ada penawaran e-ticketing. Kami masih menunggu penjelasan detail dari pihak ketiga, yakni BPD yang punya bangunan sistem untuk e-ticketing," kata Miarsana, Kamis (8/8/2019).
Pria yang juga menjabat sebagai Plt Kadis Pendidikan ini melanjutkan, setelah penyusunan konsep selesai, barulah pihak ketiga tersebut akan menyampaikan kepada Pemkab Tabanan.
"Nah kita sekarang baru ingin mengetahui itu. Gimana sih konsepnya, dan sekarang sedang disusun. Mereka akan jabarkan dulu seperti apa konsepnya, dan nanti finalnya akan disampaikan ke kita. Baru sampai sana saja pembahasannya," akunya.
• Dikalahkan Kaltara, Tim Sepak Takraw Putri Bali Bawa Pulang Medali Perak Pra PON 2019
• Bali Kehilangan Tokoh Pendidikan, In Memoriam Dr Ir Frans Bambang Siswanto
Disinggung mengenai pengadaan alat, Miarsana mengaku hal tersebut masih jauh.
Sebab, saat ini baru hanya penyusunan konsep.
Jika konsep tersebut sudah dirasa cocok, baru dilanjutkan dengan pengadaan alat.
"Pengadaan alat belum. Belum, belum itu. Kita baru mau mengenal bagaimana sih sistem bangunan e-ticketing itu," akunya.
Kemudian juga, kata dia, untuk target penerapannya masih belum pasti.
Meskipun sebelumnya sudah sempat menargetkan akan dilaksanakan pada 2018, namun batal.
Asisten Manager Operasional DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana mengatakan hal senada.
Bahwa saat ini masih sedang penyusunan konsep penerapan e-ticketing tersebut.
"Yang jelas masih berproses. Kita terus berkoordinasi agar segera bisa diterapkan. Bisa saja untuk pembelian tiket, nanti kita juga menggandeng pihak lain seperti penjual jasa di online. Artinya seperti membeli tiket di pesawat," jelasnya.
Kemudian juga, kata dia, kita akan rencanakan dalam tiket tersebut diisi validasi.
• PDIP Ajukan Lebih Dari 10 Nama Calon Menteri, Jokowi Pastikan Ada Menteri Dari Bali
• Biddokkes Polda Bali Cek Kesehatan Personel Ops Puri Agung XI 2019
Contohnya, akan diberikan validasi 1 bulan, jika tidak digunakan selama 1 bulan itu dinyatakan hangus.
Dan alat untuk menjual tiket, seharga Rp 5 juta per unit, dan rencananya sistem akan disediakan oleh BPD Bali.
"Minimal ada 8 alat di DTW Tanah Lot. Nanti alatnya kita beli kemudian rencananya sistem akan diisi oleh pihak BPD," tandasnya.
Sebelumnya, Manager DTW Tanah Lot, I Ketut Toya Adnyana menyampaikan hal senada.
Saat ini penerapan tersebut masih dalam proses, dan kemarin juga kendalanya soal pengadaan barang juga.
“Tadi Ibu (Bupati) juga menyampaikan bahwa kita lakukan proses sesuai dengan kajian-kajian yang ada,” ujar Toya saat dihubungi beberapa waktu lalu.
Kemudian, kata dia, untuk alat masih belum pengadaan namun tempat sudah ada.
Dalam pembahasan hari ini (kemarin) juga membahas seperti apa sistem kerjanya, bagaimana training SDM-nya.
Disinggung mengenai kendala lain yang dihadapi dalam proses penerapan e-ticketing ini, Toya menjelaskan wilayah Tanah Lot sangat berbeda dengan obyek wisata yang lain.
Artinya, DTW Tanah Lot berada dalam wilayah Pura Luhur Tanah Lot yang bisanya didatangi puluhan ribu pamedek saat pujawali, di pura masih belum diperoleh bagaimana cara memberikan pelayanan yang maksimal.
“Kalo kita punya jalur khusus untuk sembahyang kan tidak masalah. Itu sudah saya sampaikan, tapi sesuai dengan informasi dari pihak penyedia, katanya itu bisa. Tapi ini masih proses juga kita tunggu saja dulu, intinya belum bisa secepat yang kita harapan karena masih perlu kajian yang lebih matang,” tandasnya.
(*)