Apakah HIV dan AIDS Itu Sama? Ini Kata Dr. dr. Ketut Suryana, Sp.PD.KAI,FINASIM

Dokter spesialis penyakit dalam, Dr. dr. Ketut Suryana, Sp.PD.KAI,FINASIM yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya

Apakah HIV dan AIDS Itu Sama? Ini Kata Dr. dr. Ketut Suryana, Sp.PD.KAI,FINASIM
Tribun Bali/M. Firdian Sani
Dr. dr. Ketut Suryana, Sp.PD.KAI,FINASIM saat memaparkan materi di acara simposium RSUD Wangaya bertema "Pengetahuan Klinis Praktek Pelayanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)", di Gedung Sewaka Dharma Kota Denpasar, Sabtu (10/8/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dokter spesialis penyakit dalam, Dr. dr. Ketut Suryana, Sp.PD.KAI,FINASIM yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya mengatakan bahwa pada umumnya HIV dan AIDS itu sama namun memiliki perbedaan yang jelas.

Sumber virus dari keduanya bernama retrovirus, yang menyerang sistem imun atau kekebalan tubuh.

Virus ini menyerang daya tahan tubuh dan menimbulkan berbagai infeksi.

''HIV dan AIDS itu sama, hanya saja HIV belum menunjukkan gejala, sementara AIDS sudah," katanya.

"HIV adalah ditemukannya virus retrovirus di dalam tubuh seseorang tetapi belum ada keluh kesah, jadi kalau terbukti ada virus di dalam tubuh orang dan belum ada gejala penyakit berarti itu namanya pasien dengan infeksi virus HIV, kalau sudah ada gejala seperti batuk yang lama, apakah itu diare, atau demam yang lama itu baru disebut AIDS," ujar dr. Suryana.

Jadi HIV itu virus yang belum memunculkan gejala dan AIDS yang sudah memunculkan gejala.

Biasanya kualitas hidup orang yang mengidap HIV tidak jauh beda dengan orang normal.

Namun, orang-orang ini rentan AIDS karena virus HIV jika sudah kronis maka akan menjadi AIDS. AIDS akan menimbulkan gejala-gejala penyakit lain.

"Nah untuk gejalanya itu ada demam yang lama, batuk yang lama, diare yang bolak-balik, gatel di kulit, berat badan yang turun drastis," tegasnya.

Orang yang memiliki faktor risiko hendaknya memeriksakan dini terlebih dahulu.

Orang-orang dengan faktor risiko itu adalah orang-orang yang sudah pernah melakukan seks, apalagi seks bebas.

"Secara umum tampilan tidak bisa dipakai patokan apakah orang itu terkena HIV atau tidak, yang jelas orang-orang dengan faktor risiko harus diperiksakan, seperti mereka yang sering jajan di luar (sewa PSK), dan pengguna narkoba," kata dr. Suryana. (*)

Penulis: M. Firdian Sani
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved