Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kisah dr. Dudut Rustyadi, Dari Insiden Bom Bali Hingga Disebut Dokter Mayat

Siapa sangka Dudut yang dikenal sebagai pria yang menyenangi dunia forensik ini, saat kecil tak terbersit untuk menjadi seorang dokter.

Penulis: M. Firdian Sani | Editor: Eviera Paramita Sandi
Istimewa/Humas RSUP Sanglah
Tim Instalasi Forensik RSUP Sanglah tengah membersihkan jenazah terlantar sebelum menjalani kremasi massal 

Kemudian, alumni SMAN 1 Denpasar ini berpikir dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

"Dokter spesialis apa sih yang tidak memeriksa pasien?" pikirnya saat itu.

Berawal dari insiden bom Bali tersebut, menimbulkan keinginan lulusan SDN 6 Batubulan ini, untuk mengambil spesialis forensik.

Menurutnya, spesialis forensik merupakan seni yang berbeda dengan spesialis lainnya yang ada, serta tidak memeriksa pasien pada umumnya sebagai dokter spesialis.

Akhirnya Dudut pun memutuskan untuk magang menjadi staf di Kedokteran Forensik RSUP Sanglah.

Sekitar setahun setelah magang sebagai staf di forensik RSUP Sanglah, ia merasa jika dirinya senang dan suka dengan dunia spesialis forensik.

"Minta izin kepada pihak Managemen RSUP Sanglah untuk melanjutkan spesialis forensik di Universitas Indonesia.

Sekitar tahun 2007, ia pun lulus sebagai spesialis forensik dan berhasil meraih cumlaud IPK 3.8. Setelah itu, lalu langsung kembali ke Bali dan bekerja di RSUP Sanglah," tambah Dudut.

Dan akhirnya pada tahun 2010 Ia resmi diangkat menjadi Kepala Intstalasi Forensik RSUP Sanglah.

Kini ia menjalani periode yang ke dua.

Kni, setelah 17 tahun berlalu, ia mengaku belum pernah melihat hal ganjil ataupun semacam kejadian supranatural lainnya.

"Alhamdulilah saya gak pernah liat yang aneh-aneh, saya pernah autopsi jam satu sampai jam tiga malam, ya belom pernah sih liat begituan," ungkapnya saat dijumpai Tribun Bali, Selasa (27/8/2019).

Ia mengatakan tidak takut dalam mengautopsi orang yang sudah meninggal.

Justru yang ia takutkan adalah orang yang masih hidup karena menurutnya bisa melawan bahkan membunuh.

"Tidak takut, karena kan orang mati itu gak bakal lukai kita, beda dengan orang hidup, kamu tidur di rumah sendiri ada perampok. Bisa dibunuh sama dia," guraunya sambil tertawa.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved