Kisah dr. Dudut Rustyadi, Dari Insiden Bom Bali Hingga Disebut Dokter Mayat
Siapa sangka Dudut yang dikenal sebagai pria yang menyenangi dunia forensik ini, saat kecil tak terbersit untuk menjadi seorang dokter.
Penulis: M. Firdian Sani | Editor: Eviera Paramita Sandi
Disebut Dokter Mayat
dr. Dudut menceritakan suka dukanya saat berada di forensik RSUP Sanglah.
Ia mengatakan berada di forensik karena senang membantu dan pada waktu itu tidak banyak dokter yang berkecimpung di bidang forensik.
"Memang saya niatnya itukan untuk menolong ya dalam artian itu tidak banyak kan dokter yang berkecimpung di bidang forensik ini," katanya.
17 tahun telah berlalu ada beberapa hal menurutnya yang menjadi suka duka saat menjalani profesi ini.
"Sukanya saya adalah ketika memeriksa, mengautopsi. Nah dari sana memudahkan penyidik untuk mengungkap kasusnya, bahkan bisa membantu memprofil pelakunya. Itu tentu menjadi kepuasan tersendirilah ya, kita bisa memberikan haknya dia sebagai korban, supaya pelakunya bisa diusut sesuai peraturan," jelasnya.
Selain suka, ia juga mengalami duka.
"Dukanya itu ketika kita ketemu sama orang yang skeptis gitu. Dikatain wah ini dokter mayat, ngobok-ngobok mayat, padahal sesungguhnya yang namanya teknik autopsi itu tidak gampang, saya sekolah loh tiga tahun, ada tekniknya loh autopsi itu tergantung kasus yang ditangani. Itu semua ada ilmunya gak sembarangan. Saya sebel juga," ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/tim-instalasi-forensik-rsup-sanglah-tengah-membersihkan-jenazah-terlantar_20181003_185541.jpg)