Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Petani Terancam Merugi, 42 Hektare Sawah di Tabanan Alami Kekeringan

Menurut data dari Dinas Pertanian, sawah di Tabanan yang mengalami kekeringan seluas 42.4 hektare

Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Widyartha Suryawan
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Kondisi areal sawah di Tempek Jumanik, Subak Apit Jurang, Desa Kuwum, Kecamatan Marga, Tabanan yang mengalami kekeringan, Rabu (28/8/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Tanaman padi di areal Tempek Jemanik, Subak Apit Jaring, Desa Kuwum, Kecamatan Marga, Tabanan, tampak menguning, Rabu (28/8/2019).

Bagian tanah juga tampak kering sehingga tanahnya terlihat terbelah.

Subak Apit Jaring ini merupakan salah satu areal persawahan yang mengalami kekeringan dari total 42 hektare lebih sawah kekeringan di Kabupaten Tabanan.

Bahkan, salah satu petani mengaku mengalami kerugian Rp 2,5 Juta jika gagal panen.

Hal itu disebabkan oleh kemarau berkepanjangan dan aliran subak yang tak begitu besar.

Selain itu, sebagian besar sawah tak memiliki sumber air atau aliran subak yang tak pasti, sehingga menjadi areal tadah hujan atau sawah yang mengandalkan air ketika musim hujan turun.

Menurut data dari Dinas Pertanian, sawah di Tabanan yang mengalami kekeringan seluas 42.4 hektare.

Luasan tersebut tersebar di lima kecamatan yang ada seperti Tabanan, Kediri, Kerambitan, Marga, dan Selemadeg Barat.

Kelian Tempek Jemanik Subak Apit Jaring, I Wayan Jirna (60) mengungkapkan, luasan total di Subak Apit Jaring ini sekitar 20 hektare dan yang mengalami kekeringan adalah 8 hektare.

Awalnya ia bersama petani setempat lainnya memulai menanam padi karena saat penanaman pasokan air masih bagus atau memadai.

Namun prediksi tersebut justru meleset karena saat ini musim kemarau panjang apalagi areal sawah tadah hujan atau mengandalkan air hujan untuk pengairannya.

"Saya punya 30 are disini (tempek jemanik) dan umur padinya sekarang sudah 58 hari," ungkap Jirna, Rabu (28/8).

Dia melanjutkan, dengan luasan 30 are tersebut setidaknya ia sudah mengeluarkan biaya modal Rp 2.5 Juta.

Jumlah tersebut terhitung dari awal baik bibit, pupuk, dan upah olah tanam seperti traktor dan lain sebagainya.

"Padahal musim tanam yang lalu (tiga bulan lalu) hasil panennya juga lumayan. Namun sekarang sudah gagal panen jika tak ada hujan dua hari ke depan," tandasnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved