Petani Terancam Merugi, 42 Hektare Sawah di Tabanan Alami Kekeringan
Menurut data dari Dinas Pertanian, sawah di Tabanan yang mengalami kekeringan seluas 42.4 hektare
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Widyartha Suryawan
Sementara itu, Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Nengah Durmita mengatakan, dari total luasan kekeringan ada tiga spesifikasi yakni ringan sedang dan berat. Salah satu wilayah yang termasuk berat adalah di Subak Apit Jaring ini karena terancam mengalami gagal panen.
"Rata-rata usia padi yang mengalami kekeringan itu sekitar 25-70 hari. Itu tersebar di lima kecamatan yang mengalami kekeringan," ungkapnya.
Menurut Durmita, peristiwa kekeringan ini memang kerap terjadi. Itu disebabkan oleh prediksi musim hujan yang meleset, apalagi sebagian yang mengalami kekeringan itu karena sawah tadah hujan.
"Jika tidak ada hujan dalam waktu dekat, mereka (sawah kekeringan) akan gagal panen," katanya.
Disingung mengenai solusi untuk peristiwa ini, Durmita mengaku hanya bisa mengimbau kepada para petani untuk melakukan sistem pengairan gilir giring.
"Kalau masalah bantuan sebenarnya ada, tapi karena masalah sumber air yang sulit. Ada beberapa sawah yang memiliki sumber air seperti di daerah Kediri, namun jauh sehingga bantuan mesin sedot air tak bisa dimanfaatkan," imbuhnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sawah-di-tempek-jumanik-tabanan-mengalami-kekeringan.jpg)