Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Hobi Menulis Sejak Remaja, Dokter Berdarah Seniman Ini Sudah Luncurkan 3 Buku

Ia mengaku membuat buku ini lantaran hobi atau kegemarannya dalam menulis. Bahkan sejak usia remaja ia aktif menulis puisi dan cerita pendek.

Penulis: M. Firdian Sani | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/M. Firdian Sani
dr. Arya Warsaba Sthiraprana Duarsa memegang bukunya saat ditemui Tribun Bali di Ruang Humas RSUP Sanglah. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, M. Firdian Sani

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dr. Arya Warsaba Sthiraprana Duarsa atau yang akrab dipanggil dr. Arya adalah seorang penyair sekaligus dokter yang kini menjabat sebagai Kepala Bagian Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat (Hukmas) di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah.

Ia menjadi dokter sejak tahun 1995, dan terhitung sudah 24 tahun ia menjadi dokter umum di RSUP Sanglah.

Dr. Arya lahir di Denpasar, ia menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan Magister Manajemen di Universitas Pendidikan Nasional, Denpasar. Ia gemar menulis sejak usia remaja dan berlanjut hingga sekarang.

Ini merupakan buku ketiga dari dr. Arya.

Dr. Arya menuturkan, karyanya kali ini terdiri dari beberapa karya yang ia kumpulkan dari buku pertama dan kedua.

Bukunya yang pertama berjudul, "Bagian Dari Dunia" yang terbit pada tahun 1994, bukunya yang kedua berjudul "Pulang Kampung" yang terbit pada tahun 2008.

Pria Ini Curi Uang Tamu di Ubud Demi Sewa PSK, Pelaku : Namanya Juga Laki-laki, Biasalah

Rp 800 Juta Hanya Jadi Pilar dan Pondasi, Proyek Gedung BUMDes Sembung Mangkrak

Baru-baru ini, yakni pada Agustus kemarin buku ketiganya berhasil diterbitkan oleh Bali Mangsi Foundation.

Buku antologi puisi itu berjudul "Autobiografi Kejahatan" terdiri dari 81 halaman dan ada 40 puisi di dalamnya.

"Dalam buku ini ada 40 puisi yang saya kumpulkan, jadi puisi dari tahun 2013 saya kumpulkan di sini, sampai tahun ini. Jadi mungkin gaya penulisannya ada yang sangat berbeda dari puisi di tahun ini dan di tahun kemarin," jelasnya.

Perbedaan gaya menulisnya dipengaruhi oleh tahun itu sendiri karena setiap tahun berbeda usia, pengalaman, dan pengetahuan.

Menurutnya puisi itu sifatnya luas dan bebas, karena bisa memiliki banyak makna tergantung dari latar belakang pembacanya.

"Interaksi puisi adalah seni, jadi tidak boleh menyalahkan penafsiran pembaca soal puisi. Karena itu semua tergantung dari latar belakang pembaca dan pengetahuan budaya si pembaca. Jadi wajar aja kalau satu puisi dimaknai berbeda oleh pembaca A dan pembaca B. Kalau penulis menjelaskan makna puisi ini atau itu, malah bisa mempersempit makna puisi itu sendiri," jelasnya.

Ia mengaku membuat buku ini lantaran hobi atau kegemarannya dalam menulis. Bahkan sejak usia remaja ia aktif menulis puisi dan cerita pendek.

Ia mendapat inspirasi dari kehidupan dan keseharian yang ia jalani.

Malu Rabies Dikatakan sebagai Proyek Tahunan, Dirjen Kementan: Hati Saya Menjerit

Kegiatan September Kelabu Komunitas Perpustakaan Jalanan Tabanan Ditunda

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved