Penting Mendata Obat Melalui E-Katalog, Baru 10 Persen Puskesmas Punya Apoteker

Keberadaan apoteker di puskesmas dinilai penting supaya bisa melakukan pendataan obat melalui e-katalog.

Penting Mendata Obat Melalui E-Katalog, Baru 10 Persen Puskesmas Punya Apoteker
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya saat ditemui Jumat (8/2/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR–Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya menyampaikan belum semua puskesmas di Bali memiliki tenaga apoteker.

Bahkan, ia memperkirakan hanya 10 persen saja puskesmas yang ada apotekernya.

“Wah saya tidak memiliki data pastinya. Tapi diperkirakan sekitar 10 persen yang punya tenaga apoteker untuk puskesmas se-Bali,” kata Suarjaya saat ditemui di RSUD Bali Mandara, Jumat (20/9/2019).

Keberadaan apoteker di puskesmas dinilai penting supaya bisa melakukan pendataan obat melalui e-katalog. Kendalanya memang di setiap puskesmas tidak cukup banyak tenaga apotekernya.

 
Maka dari itu, pihaknya sudah menyampaikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se Bali agar menyediakan apoteker di setiap puskesmas, karena pengisian SDM apoteker ini merupakan kewenangan pemerintah kabupaten/kota.

Buleleng Target Revitalisasi 3 Pasar Tahun Depan

Kreatif Food, 8 Food Truck dan 7 Stan Nangkring di Jalan Gajah Mada Denpasar

Selain itu, tambah Suarjaya, sudah ada surat edaran dari Menteri Kesehatan RI agar seluruh puskesmas di Indonesia dilengkapi SDM tenaga apoteker.

 
Sementara itu, Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar I Gusti Ayu Adhi Aryapatni membenarkan memang belum semua puskesmas di Bali memiliki tenaga apoteker.

 
Tenaga apoteker yang dimaksud adalah mereka yang secara kompetensi dan keahlian paham tentang pengelolaan obat, baik penyimpanan, pengadaan maupun penggunaan obat yang sesuai standar kefarmasian sesuai PP 51 tahun 2009 tentang  pekerjaan kefarmasian.

Internet Gratis Hanya Dinikmati di Ruang Guru, Siswa Harus Lesehan Cari Wi-Fi Keluar Kelas

 
Sedangkan saat ini yang sering melakukan pekerjaan itu di puskesmas adalah tenaga teknis non kefarmasian. 

“Mungkin ke depan (tenaga apoteker) ini harus dilengkapi setelah ada Peraturan Menteri,” harapnya.

 
Aryapatni mengungkapkan, selain apoteker  yang menjadi masalah adalah mengenai sarana prasarana penyimpanan obat, misalnya termometer untuk memonitoring suhu tempat penyimpanan obat yang belum ada.

Alat tersebut penting agar diketahui suhu obat bisa stabil saat dilakukan penyimpanan.

Gelombang Setinggi 3,5 Meter Diprediksi Melanda Wilayah Selatan Bali Tiga Hari ke Depan

TRIBUN WIKI - Mengenal Yonif Raider 900/SBW, Prajurit yang Bertanggungjawab Jamin Keselamatan VVIP

“Tentu kami berharap ke depan sarana pelayanan kesehatan juga disiapkan sertifikasi bagaimana cara pengelolaan obat yang baik, sehingga masalah-masalah temuan obat kadaluwarsa, kemudian penyimpanan obat yang tidak sesuai persyaratan, bisa diminimalisi,” terangnya.

Terkait pendistribusian obat, kata dia, sekarang sudah ada peraturan yang mewajibkan semua perusahaan besar farmasi wajib bersetifikasi CDOB  (cara distribusi obat yang baik) sehingga keamanan obat dapat terjamin sampai ke tujuan. (*)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved