Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Liputan Khusus

Fenomena Kecanduan Smartphone, Miris! Keluarga Diatur Ponsel

Basudewa sempat beberapa kali didatangi orangtua yang anaknya kerap tidak mau sekolah, dan suka ngamuk ketika dijauhkan dengan handphone.

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/Ida Ayu Made Sadnyari
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -- Direktur RSJ Provinsi Bali, dr I Dewa Gede Basudewa SpKJ, juga mengungkap bahwa fenomena adiksi saat ini semakin meluas, yakni banyak kasus yang disebabkan oleh gadget khususnya game online.

Dalam praktek pribadinya, Basudewa sempat beberapa kali didatangi orangtua yang anaknya kerap tidak mau sekolah, dan suka ngamuk ketika dijauhkan dengan handphone.

“Kalau dari penanganan saya pribadi saat praktek ada itu. Fenomena ini sudah sejak satu dua tahun lalu sudah mulai itu.

Gak mau sekolah, kemudian orang tuanya takut anaknya bunuh diri, ngamuk, akhirnya orang tuanya sibuk melobi gurunya agar anaknya bisa dipindahkan di dekat rumah.

Banyak Remaja Bali Gila Gara-gara Gadget, Sampai Hendak Bunuh Diri Akibat Game Online

Gurunya dibujuk agar membiarkan anaknya naik kelas. Kacau itu. Susah nanganinya itu,” ungkap Basudewa kepada Tribun Bali, pekan lalu.

Dari pasien yang ia tangani, kebanyakan yang terkena adiksi akibat ponsel ini adalah anak-anak yang masih duduk di bangku SMA di Denpasar.

Menurut Basudewa, problem dalam penanganan gangguan jiwa disebabkan oleh game online ini adalah si anak tak menyadari dirinya sakit. Ketika dibujuk orangtuanya, mereka marah, dan ngamuk.

“Karena dia tidak menganggap dirinya sakit. Justru dia memarahi orang tuanya, orang tuanya takut sama dia akhirnya mengikuti kemauan anaknya.

Orang tuanya dikendalikan oleh hpnya dia. Jadi bukan hanya pasien saja yang dikendalikan, tapi keluarganya juga dikendalikan akhirnya. Ini benar-benar mengerikan,” ujar Basudewa.

Basudewa mengimbau agar para orang tua mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap pengaruh gadget terhadap anak. Bila perlu harus ada pendampingan.

Namun demikian, sebetulnya mereka yang mengalami gangguan jiwa akibat gadget ini adalah mereka yang juga punya masalah lain dalam dirinya baik di keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Misalnya, menurut Basudewa, kalau dilihat dari rentetan kasusnya, ada penyebab lain juga yang menjadi faktor pemicu.

Misalnya, si anak lari ke hp karena hubungan dengan orangtuanya tidak bagus.

“Jadi memberi pola asuh yang salah. Jadi anak itu sebenarnya kurang kasih sayang, kurang diberikan semacam apresiasi. Kurang diajak ngomong, kurang ditanya kebutuhannya apa.

Ditanya masalahnya apa, trus kesulitannya apa. Terus kebanyakan apa yang menurut orang tua benar, diberikan kepada anak itu,” ujar Basudewa.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved