Pameran Tunggal Purwita Sukehat, Pictorial Realism: Study After I Ketut Gede Singaraja

I Ketut Gede Singaraja juga telah menggunakan teknik melukis wayang seperti dari Kamasan namun dengan bentukan yang sedikit beda.

Penulis: Noviana Windri | Editor: Meika Pestaria Tumanggor
Tribun Bali/ Noviana Windri
Pembukaan pameran tunggal "Pictorial Realism: Study After I Ketut Gede Singaraja" oleh Purwita Sukahet, di Danest Art Veranda, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, Bali, Minggu (27/10/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - I Ketut Gede Singaraja, perupa asal Buleleng yang namanya masih asing dibandingkan perupa-perupa lukis tradisi lainnya.

I Ketut Gede Singaraja juga telah menggunakan teknik melukis wayang seperti dari Kamasan namun dengan bentukan yang sedikit beda.

Terlebihnya lagi, dalam karyanya berjudul “Smaradahana” yang dikoleksi Wereld Museum, Rotterdam, Belanda.

Terdapat satu fragmen yang tidak biasa ditemukan dalam lukis tradisi Bali, dimana Bhatara Siwa terkena panah Bhatara Semara dan mengeluarkan darah.

Berawal Hobi Memotret, Gung Krish Kini Nikmati Income hingga Rp 18 Juta Per Bulan

Tahanan Kabur Saat Mengikuti Pelatihan Membuat Batako, Ngurah Tempati Sel Isolasi Jika Tertangkap

Dari situ Dewa Gede Purwita–Sukahet, seorang perupa dan akademisi seni rupa berbasis di Denpasar, Bali, menyadari ternyata dalam kekaryaan klasik dari Bali ini terdapat juga yang memiliki gaya yang sama.

Yang menggambarkan realita atau pictorial realism-kenyataan yang sebenarnya digambarkan secara harfiah.

"Pictorial realism ini tidak jauh-jauh dari study saya tentang kekaryaan I Ketut Gede Singaraja," jelasnya, Minggu (27/10/2019).

Lebih lanjut, Purwita Sukahet menceritakan awal perjumpaannya dengan Ketut Gede Singaraja pada tahun 2014 di Museum Buleleng.

Pada saat di Museum Buleleng ditemuinya reproduksi karya-karya I Ketut Gede Singaraja yang kemudian mengantarnya berkenalan dengan penulis buku-buku yang membahas ilustrasi-ilustrasi yang dikoleksi van der Tuuk yang direproduksi tersebut, yakni Prof. Hedwig Ingrid Rigmodis (Hedi) Hinzler.

Dengan materi-materi yang ditemukan dan bekerja sama dengan Hedi, Purwita Sukahet mengambil metode art and research dalam membedah karya-karya I Ketut Gede Singaraja.

Kronologi Istri Sekretaris KONI Buleleng Tewas Kecelakaan di Jalan Raya Singaraja

Menuju Pilkada Serentak 2020, Calon Independen di Denpasar Perlu 39.452 Dukungan

"Ilustrasi yang dibuat I Ketut Gede Singaraja untuk van der Tuuk beberapa terlihat eksperimentasi visualnya juga," tambahnya.

Dari situ ia menafsirkan kembali makna dan keadaan dalam gambar Smaradahana dan kekaryaan I Ketut Gede Singaraja yang ada di buku-buku Hinzler dan terinspirasi dari berbagai hal yang menalar chaos.

Kekacauan dalam visualisasi pun ditemukan pada proses kekaryaan Francis Bacon, pelukis asal Inggris, Britania, dan menjadi metode yang ditelaah dalam menerjemahkan kembali fragmen-fragmen dari visual-visual melukis wayang oleh I Ketut Gede Singaraja.

Adapun penalaran chaos menjadi referensi termasuk visual foto dan film bahkan ritual yang ditemukan di masyarakat Bali yang dinamakan titimama-proses mengorbankan kerbau dalam suatu upacara agama Hindu Bali dimana kepala, kaki dan kulitnya menjadi persembahan banten (sesajen).

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved