Permintaan Arak Tiap Hari 2.500 Liter Tetapi Produksi Menurun, Petani Minta Buat Payung Hukum
Produksi arak di Desa Tri Eka Buana,Kecamatan Sidemen menurun sejak musim kemarau yang dirasakan mulai lima bulan lalu.Penurunannya mencapai 50 persen
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Meika Pestaria Tumanggor
"Jumlah petani arak di Tri Eka Buana hampir 90 persen, dari jumlah penduduk,"jelasnya.
Derka berharap, pemerintah provinsi dan kabupaten memperhatikan nasib petani arak di Desa Tri Eka Buana.
Bisa dilakukan dengan membuat peraturan yang berpihak kepada petani arak.
Tak bisa dipungkiri, petani arak sering sampai harus sembunti-sembunyi dengan aparat saat mndistribusikan arak.
Padahal jika dikelola dan dikonsumsi dengan baik, arak adalah hasil karya kearifan lokal yang patut untuk dilestarikan.
• Terima Kasih Sudah Berjuang untuk Kami, Dua Upacara di Peringatan Hari Puputan Margarana
• Kader Golkar Badung Mundur Massal, Kecewa Terhadap Putusan Mahkamah Partai
"Kami berharap petani arak di Tri Eka Buana diperhatikan. Hampir 90 pereen warga kami jadi petani arak. Dari kementerian dan provinsi harus berjuang membela petani arak. Sebab arak adalah obat untuk penyakit juga terapi," ujar Derka.
Kata Derka, pembuatan arak di Desa Tri Eka Buana merupakan warisan leluhur sebelumnya serta bagian dari tradisi yang harus dipertahankan.
Pembuatn arak memiliki cerita dan sejarah untuk mengusir buta kala dari desa setempat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/warga-desa-tri-eka-buana-kecamatan-sidemen-saat-merebus-arak.jpg)