Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Terima Kasih Sudah Berjuang untuk Kami, Dua Upacara di Peringatan Hari Puputan Margarana

Sejak pukul 09.00 Wita,puluhan veteran,pejabat dan warga mengikuti upacara peringatan Hari Puputan Margarana di Lapangan Taman Pujaan Bangsa Margarana

Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Meika Pestaria Tumanggor
TRIBUN BALI/MADE PRASETYA ARYAWAN
Keluarga pejuang tampak mamunjung di Lapangan Taman Pujaan Bangsa Margarana, Rabu (20/11/2019). Mereka mendoakan dan berterima kasih atas jasa para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi lepas dari penjajahan. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Sejak pukul 09.00 Wita, puluhan veteran, pejabat dan warga mengikuti upacara peringatan Hari Puputan Margarana di Lapangan Taman Pujaan Bangsa Margarana, Tabanan, Rabu (20/11/2019).

Peringatan ini dilaksanakan dalam dua upacara berbeda, nasional dan agama.

Upacara nasional digelar dengan upacara bendera yang dipimpin oleh Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati.

Setelahnya digelar tabur bunga di Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa.

Untuk upacara agama, warga menggelar serangkaian kegiatan rutin setiap tahunnya yakni mapeed.

Selain mapeed, para keluarga para pahlawan juga datang mamunjung. Mereka mendoakan almarhum mendapat tempat yang terbaik.

Petani Adang Dua Alat Berat, Aksi Blokade Penolakan Eksekusi Lahan

Kantor Imigrasi Ngurah Rai Buka Layanan E-Paspor, Biaya Penerbitan Rp 650 Ribu

Mereka membalut batu nisan dengan kain.

Banten punjung dirangkai. Setelah sembahyang, banten kemudian dilungsur untuk selanjutnya dimakan bersama keluarga.

Ni Putu Gunarsa (74) mengaku rutin memunjung.

Ia datang bersama keluarganya dari Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Tabanan.

Ia mamunjung di makam I Ketut Tjeni yang gugur dalam puputan margarana pada 20 Nopember 1946 silam.

"Tiap tahun kami ke sini bersama keluarga untuk mamunjung. Kami berdoa agar keluarga kami mendapatkan tempat terbaik di sana. Kami bersyukur dan berterimakasih karena beliau-beliau ini sudah berjuang untuk kami sekarang," ucapnya.

Saat pelaksanaan mapeed, 150 ibu-ibu PKK Desa Pakraman Kelaci, Desa Adat Kelaci, Marga tampak rapi membawa persembahan. Ratusan pajegan yang diiringi dengan gamelan baleganjur kemudian memasuki areal monumen nasional.

Bendesa Adat Kelaci, I Made Sudarya mengatakan, tradisi ini dilakukan sejak turun-temurun oleh warga Desa Adat Kelaci. Setiap KK dilibatkan.

30.265 Kendaraan di Bangli Tunggak Pajak, Animo Warga Rendah & Tak Terpengaruh Pemutihan

Ide Kreatif Warga Banjar Adat Penarungan, Olah Biji Bunga Matahari Jadi Minyak

Hal ini bertujuan untuk dipersembahkan atau sebagai wujud rasa syukur kepada para pejuang yang gugur di medan pertempuran.

Mepeed, kata dia,  juga simbol kebangkitan. Sebab Banjar Kelaci merupakan lokasi pertempuran Margarana sehingga peristiwa bersejarah tersebut masih membekas di ingatan para warga.

"Tradisi mapeed ini menunjukkan  semangat dan bangkit kembali dari untuk warga desa dari pertempuran itu. Selain itu juga untuk tetap mengenang jasa pahlawan yang gugur," tandasnya. (*) 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved