Serba Serbi
Jadwal Hari Raya Hindu Bulan Januari 2020, Ada Siwa Ratri dan Tumpek Pengatag
Selama bulan Januari 2020 ini, umat Hindu khususnya yang ada di Bali akan merayakan 10 hari raya.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Kadi ring keliyon nemu atutan kewala tambahane sega warna limang warna, dadi awadah, ring dengen juga genahing caru ika, ika sanding lawang ring luur, aturane canang lenga wangi burat wangi, canang gantal, astawakna ring Durga Dewem, ne ring sor, ring Durga Bucari, Kala Bucari buta Bucari, palania ayu paripurna sira aumah, yania tan asiti mangkana I Buta Bucari, aminta nugeraha ring Bhatari Durga Dewem, mangerubadin sang maumah, angadakakan desti, aneluh anaranjana, mangawe gering sasab merana, apasang pengalah, pamunah ring sang maumah, muang sarwa Dewa kabeh, wineh kinia katadah da waduanira Sang Hyang Kala, nguniweh sewaduanire Dewi Durga, tuhunia mangkana, ayua sira alpa ring wuwus manai.
Artinya;
Sementara itu pada hari raya Kajeng Kliwon, untuk upakaranya sama seperti pada hari Pancawara Kliwon, hanya tambahannnya yaitu segehan lima warna lima tanding.
Pada samping kori sebelah atasnya dipersembahkan canang wangi-wangi, burat wangi, canang yasa, dan yang dipuja ialah Hyang Durga Dewi.
Yang disuguhkan di bawah untuk Sang Durga Bhucari, Kala Bhucari, Bhuta Bhucari, dengan tujuan agar berkenan memberikan keselamatan kepada penghuni rumah.
Jika tidak melakukan hal itu, maka Sang Kala Tiga Bhucari akan memohon penugrahan kepada Bhatara Durga Dewi, untuk mengganggu penghuni rumah, dengan jalan mengadakan gering atau penyakit dan mengundang kekuatan black magic, segala merana, mengadakan pemalsuan, yang merajalela di rumah, yang mana mengakibatkan perginya para Dewata semuanya, dan akan memberi kesempatan para penghuni rumah disantap oleh Sang Hyang Kala bersama-sama dengan abdi Bhatara Durgha.
4. Buda Keliwon Gumbreg
Rabu (15/1/2020) juga merupakan Buda Kliwon Gumbreg yang juga bertepatan dengan Kajeng Kliwon Uwudan.
5. Siwa Ratri
Kamis (23/1/2020) umat Hindu merayakan hari Siwa Ratri yang dirayakan sehari sebelum tilem Kapitu.
Wakil Ketua PHDI Bali, Pinandita Ketut Pasek Swastika mengatakan Hari Raya Siwaratri yang dilaksanakan saat Sasih Kepitu, pada hakikatnya adalah Namasmaranam pada Nama Siwa, yang artinya selalu mengingat dan memuja Siwa dalam upaya melenyapkan segala kegelapan batin.
"Keutamaan Siwaratri diuraikan dalam kitab-kitab Purana yaitu Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana," paparnya.
Brata Siwaratri yang hendaknya dilaksanakan menurut berbagai Purana tersebut yaitu Upawasa yang biasanya dilaksanakan mulai matahari terbit.
Menurut Agni Purana artinya "kembali suci"; yang dimaksud adalah dilatihnya indria melepaskan kenikmatan makanan atau dengan kata lain yaitu berpantang terhadap makanan, melatih untuk tidak terikat dengan kelezatan makanan sebagai bentuk melatih pengendalian indria-indria duniawi.
Kedua yaitu Mona Brata yang artinya berdiam diri tidak bicara.
"Mona bertujuan melatih diri dalam hal bicara agar terbiasa bicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona adalah melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian. Mona Brata biasa dilaksanakan secara total mulai pagi hari hingga sore hari," jelasnya.
Brata ketiga yakni Jagra atau sadar, di mana selalu menjaga kesadaran buddhi.
"Menjaga kesadaran agar selalu mengarah pada Sang Pencipta. Dalam upaya menjaga kesadaran inilah mereka yang totalitas melaksanakan Brata Mahasiwaratri biasanya pada malam harinya melakukan Japa Seribu Nama Siwa atau men-Japa-kan nama-nama Siwa yang jumlahnya seribu," katanya.
6. Tilem Kapitu
Jumat (24/1/2020) merupakan pelaksanaan Tilem Kapitu yang dianggap sebagai Tilem yang paling gelap.
Menurut Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa, pemujaan kepada gelap atau Tilem ditujukan kepada Dewa Siwa.
Ia mengatakan, dalam Jnyana Sidantha disebutkan di dalam matahari ada suci, di dalam suci ada siwa, di dalam siwa ada gelap yang paling gelap.
Hal itulah yang menyebabkan tilem mendapatkan pemuliaan.
Guna mengatakan di daerah Bangli ada Pura Penileman, dimana setiap Tilem dilakukan pemujaan di sana.
"Di Pura Penileman dilakukan pemujaan kepada Siwa, karena ada warga masyarakat yang nunas (meminta) pengidep pati atau sarining taksu jelas sudah Siwa. Bukti arkeologis ada arca Dewa Gana yang merupakan putra Siwa,” katanya.
Sehingga dalam konteks kebudayaan di Bali yang dimuliakan bukan bulan terang saja atau Purnama, tapi gelap yang paling gelap juga dimuliakan.
Sabtu (25/1/2020) merupakan Hari Raya Tumpek Uduh atau Pengatag atau Tumpek Bubuh.
Dilaksanakan 25 hari sebelum Hari Raya Galungan atau di Bali disebut selae dina sebelum Galungan, umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Wariga.
Tumpek Wariga ini juga bisa dusebut dengan Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh, Tumpek Panuduh, Tumpek Pengarah, atau Tumpek Pengatag.
Dirayakan setiap enam bulan sekali yaitu pada Saniscara Kliwon wuku Wariga.
Perayaan Tumpek Wariga ini merupakan hari suci pemujaan kepada Dewa Sangkara atau Dewa penguasa kesuburan semua pepohonan dan tumbuhan.
8. Soma Paing Warigadean
Senin (27/1/2020) merupakan Soma Paing Warigadean.
Pada hari ini memuja Bhatara Brahma dan menghaturkan sesaji di merajan atau sanggah kemulan.
9. Buda Wage Warigadean
Rabu (29/1/2020) adalah hari raya Buda Wage Warigadean yang dilaksanakan pada Rabu Wage wuku Warigadean.
10. Hari Bhatara Sri
Jumat (31/1/2020) dirayakan hari Bhatara Sri untuk memuja Dewi Sri sebagai dewi kemakmuran. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bali-safari_20161126_200409.jpg)