Dinkes Bali Usul RSUP Sanglah Buka Layanan Operasi 24 Jam, Begini Jawaban Rumah Sakit
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dalam hal ini Dinas Kesehatan (Dinkes) mengusulkan agar Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah membuka layanan opera
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dalam hal ini Dinas Kesehatan (Dinkes) mengusulkan agar Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah membuka layanan operasi selama 24 jam.
Hal itu diusulkan karena Dinkes Bali melihat bahwa antrean masyarakat untuk melakukan operasi di RSUP Sanglah cukup panjang.
Menanggapi usulan tersebut, Direktur Utama (Dirut) RSUP Sanglah Wayan Sudana mengatakan, kasus operasi yang ditangani rumah sakit yang dipimpinnya itu termasuk rujukan severity level tiga yang memiliki tingkat kesulitan tinggi dan kompleks.
Hal itu membutuhkan penanganan yang lebih lama sehingga antrean operasi di RSUP Sanglah menjadi lebih panjang.
• Irfan Bachdim Marah: Saya Malas, Tulis Lagi!
• Puluhan Krama Banjar Graha Shanti Datangi Dewan, Luruskan Soal Pemekaran Banjar Adat
“Untuk kasus operasi yg dilakukan di RSUP Sanglah termasuk kasus-kasus rujukan yang severity level 3 memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, kompleks sehingga dibutuhkan waktu yang lebih lama,” kata Sudana saat dihubungi Tribun Bali melalui pesan WhatsApp, Kamis (16/1/2020) malam.
Sementara itu dirinya juga mengatakan bahwa RSUP Sanglah sebenarnya saat ini sudah memiliki empat ruang operasi yang 24 jam, yaitu dua ruang di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan dua ruangan di Wing Amerta.
Sedangkan 14 ruang operasi lainnya secara bertahap saat ini baru konsep sampai pukul 22.00 Wita, mengingat penambahan jam layanan di ruang operasi juga harus diikuti dengan penambahan pendukung lainnya.
Pendukung lain yang dimaksud oleh seperti sarana prasarana dan sumber daya manusia (SDM) serta kesiapan jumlah ruangan perawatan, pos operasi.
• Gedung Megah Senilai Rp 388 Miliar di Puspem Badung Tak Jelas Pengelolanya
• Tantangan Berat Timnas Portugal di Piala Eropa 2020, Ada Mimpi Besar Bersama Cristiano Ronaldo
“Secara bertahap nantinya terus ditingkatkan agar bisa semuanya 24 jam beroperasi,” kata dia.
Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Sanglah I Ketut Sudartana menambahkan, antrean operasi yang panjang tidak boleh hanya semata-mata dilihat bahwa itu kesalahan dari RSUP Sanglah.
Dirinya mengatakan, di tengah adanya antrean panjang ini kadang-kadang terdapat pasien yang sudah dihubungi untuk operasi namun tidak bisa datang karena berhalangan adat, menikah, ngaben dan sebagainya.
“Jadi jadwal pasien itu tertunda. Dianggap antrean, padahal permasalahan pasien seperti itu. Jadi bukan karena Sanglah tidak mampu mengakomodasi antrean itu,” tuturnya.
• Bupati Banyuwangi Kumpulkan Kepala Sekolah dan Guru, Samakan Persepsi Konsep Pendidikan
• Choky Vandra Akan Luncurkan Single Terbaru Berjudul Panah Asmara, Hadirkan Petra Sihombing
“Problem-nya adalah itu, jadi bukan hanya karena kesalahan Sanglah yang kurang memfasilitasi. Tapi kadang kan pasien seperti itu masalahnya,” imbuh dia.
Selain itu, ada juga pasien-pasien yang sudah dipanggil namun terdapat masalah di pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
“Masalahnya banyak. Jangan hanya melihat dari sisi rumah sakit. Kita juga harus melihat dari sisi pasiennya. Sanglah sudah merencanakan itu semua,” tuturnya.
Bahkan, kata dia, RSUP Sanglah sudah membuat jadwal pelayanan operasi ini seminggu sebelum waktu pasien menjalani operasi.
• Listrik Tiba-Tiba Mati, Museum Semarajaya Klungkung Kekurangan Daya Listrik
Pihaknya mengaku setiap hari Jumat menyusun jadwal operasi yang akan digunakan untuk minggu depannya.
Per harinya, rata-rata terdapat hingga 40 pasien yang berencana melakukan operasinya.
Jam operasi biasanya dilaksanakan mulai pukul 07.30 pagi hingga sore hari sesuai dengan panjang operasi kepada pasien yang bersangkutan.
“Sekali lagi jangan hanya melihat dari satu sisi, banyak kendala yang harus kita ketahui kenapa ada antrean dan sebagainya,” tegasnya lagi.
Menurut dia, antrean operasi di suatu rumah sakit ini wajar dan ini terjadi hampir di seluruh rumah sakit termasuk di luar negeri.
Sebelumnya, Kepala Dinkes Provinsi Bali Ketut Suarjaya mengatakan, jika seandainya RSUP Sanglah bisa melaksanakan pelayanan operasi selama 24 jam maka bisa mengurangi adanya jumlah antrean masyarakat yang melakukan operasi.
“Saya dari dulu juga mengajak Sanglah bagaimana kalau layanan operasinya itu kan bisa saja 24 jam kan, sehingga tidak cukup hanya sampai sore saja operasi selesai (atau) tutup,” kata Kepala Dinkes Provinsi Bali Ketut Suarjaya saat ditemui di Gedung DPRD Bali, Kamis (16/1/2020).
Menurut Suarjaya, RSUP Sanglah sebenarnya bisa melakukan hal tersebut karena memiliki dokter yang cukup banyak.
Sehingga, kata dia, pihak rumah sakit hanya tinggal mengatur jadwal dokter yang bersangkutan siapa yang shift pagi, siang dan seterusnya.
Di sisi lain, Suarjaya mengusulkan jika pelayanan operasi sudah bisa dilakukan selama 24 jam maka remunerasi kepada para dokter juga harus dinaikkan.
“Ini saya terus imbau kepada rumah sakit yang antreannya panjang, tolong dimaksimalkan peralatan yang ada (dan) SDM yang ada khususnya Sanglah,” tegas Suarjaya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/i-ketut-kariyasa-adnyana-saat-berkeliling-di-rsup-sanglah.jpg)