Karya Agung Pengurip Gumi
Warga Tonja Cuti 5 Hari, Ngayah Melasti Karya Agung Pengurip Gumi
Ribuan krama begitu semangat ngiring Ida Bhatara saat prosesi Melasti Karya Pengurip Gumi dari Pura Luhur Batukau menuju Pura Luhur Tanah Lot
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Irma Budiarti
Warga Tonja Cuti 5 Hari, Ngayah Melasti Karya Agung Pengurip Gumi
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Ribuan krama begitu semangat ngiring Ida Bhatara saat prosesi Melasti Karya Pengurip Gumi dari Pura Luhur Batukau menuju Pura Luhur Tanah Lot, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (29/1/2020).
Sekitar 20 ribu pemedek mengikuti prosesi langka ini.
Tak hanya dari Tabanan, juga dari Jembrana, Klungkung, dan Denpasar.
Sejak pukul 05.30 Wita, saat udara masih terasa dingin di wilayah Batukaru, para pemedek sudah berdatangan.
Setelah melewati beberapa prosesi ritual, dan mengatur urutan iringan melasti, Ida Bhatara pun memargi dari Puru Luhur Batukau sekitar pukul 09.00 Wita.
Satu dari ribuan pemedek yang mengiringi Ida Bhatara adalah Gede Indrawan (34), asal Tonja, Denpasar.
Indrawan mengaku sudah datang bersama keluarganya ke Pura Luhur Batukau sejak Selasa (28/1/2020) malam.
Mereka makemit di pura dan paginya mengikuti prosesi pamelastian Karya Agung Pengurip Gumi, yang direncanakan berlangsung selama empat hari tiga malam ini.
"Tiang bersama keluarga dari Denpasar. Memang berencana ikut ngayah Melasti Karya Agung Pengurip Gumi ini," ujar Indrawan saat dijumpai di sela-sela prosesi melasti, kemarin.
Dua pekan sebelum pamelastian ini, Indrawan sudah mengajukan cuti selama lima hari.
Ia memang sengaja mengambil cuti untuk mengikuti proses pemelastian dengan menempuh perjalanan dari Pura Luhur Batukau ke Pura Luhur Tanah Lot.
"Saya sudah ngambil cuti dari waktu ini. Karena memang sudah dipersiapkan untuk mengikuti proses melasti ini," tutur pria yang bekerja di sebuah hotel di wilayah Nusa Dua ini.
Sejumlah personel Polres Tabanan bersama pecalang tampak standby menjaga setiap titik yang menjadi jalur pamelastian.
Seperti di jalur menuju Pura Beji Agung Pekiyisan Toya Tabah di Tuakilang.
• Krama di Sepanjang Jalur Melasti Karya Agung Pengurip Gumi Siapkan Meja Berisi Makanan dan Minuman
• Sejumlah Personel Polres Tabanan Standby Menjaga Jalur Pemelastian Karya Agung Pengurip Gumi
Pura Beji ini merupakan salah satu jalur pamelastian yang melewati sungai.
Proses pamelastian Karya Agung Pengurip Gumi ini akan melewati tiga aliran sungai.
Di antaranya Sungai Yeh Ho, Yeh Empas, dan Tukad Yeh Panahan.
Aliran sungai Yeh Ho akan dilewati di Desa Penatahan, kemudian aliran Sungai Yeh Empas ada di wilayah Banjar Tuakilang Baleran, Desa Denbantas.
Sedang aliran Tukad Yeh Panahan ada di wilayah menuju Desa Demung, Kecamatan Kediri.
Ketua Panitia I Karya Pangurip Gumi, Wayan Arya menjelaskan, rangkaian Karya Agung Pangurip Gumi ini utamanya adalah proses pamelastian nincap segara ke Tanah Lot.
Prosesi nincap segara Tanah Lot tiada lain sesuai pawuwus (petunjuk), bahwa Ida Bhatara berkenan untuk menyucikan kembali seisi dunia seisi jagat raya ini.
Karena selama ini sudah mengalami berbagai kendala, musibah, penyakit, dan lain sebagainya.
"Artinya berkenan turun untuk ngamed tirta ring segara pacang Merastita Jagat Pangurip Gumi. Ini pokok dari inti Karya Pangurip Gumi di Pura Batukau," jelas Wayan Arya.
Ia menjelaskan sekilas tentang beberapa makna melasti ini.
Pertama, pada melasti ini harus berjalan kaki atau tidak boleh naik kendaraan.
Hal ini karena Ida Bhatara berkenan tedun nepak pertiwi untuk menghilangkan semua leteh jagat dan kebyaparan jagat.
Ida Bhatara juga berkenan memberikan waranugraha kepada Hyang Pertiwi.
Karena Hyang Ibu Pertiwi yang memberikan kehidupan sebagai sumber kehidupan semua makhluk hidup di dunia ini.
Sekaligus mengembalikan fungsi Ibu Pertiwi.
• Ribuan Pemedek Iringi Pemelastian Karya Pengurip Gumi dari Pura Luhur Batukau
• Melasti dari Pura Luhur Batukau Menuju Pura Luhur Tanah Lot 4 Hari 3 Malam, Warga Lakukan Ini
Dalam perjalanan menuju Pantai Tanah Lot, akan melewati atau menyeberangi beberapa sungai.
Dalam prosesnya, Ida Bhatara harus turun ke sungai meskipun di sebelahnya ada jembatan.
Tapi ini bukan berarti beliau tak mau melewati jembatan, karena maknanya adalah beliau memberikan restu kepada amerta yang disimbolkan dengan air.
Karena kehidupan tak mungkin tanpa air.
"Setiap sungai yang dilewati pasti akan turun (ke sungai). Nepak ring luwah agung (sungai) namanya," jelasnya.
Pamelastian Karya Agung Pengurip Gumi dari Pura Luhur Batukau menuju Pura Luhur Tanah Lot, termasuk “ritual” langka.
Pelaksanaan melasti ini tidak bisa ditentukan waktunya, tergantung pawisik Ida Bhatara.
Terakhir dilaksanakan tahun 1993.
Tahun ini, melasti ini berlangsung empat hari tiga malam.
Mulai 29 Januari sampai 1 Februari 2020.
Ida Bhatara dan pangiring diperkirakan baru tiba di Tanah Lot pada Kamis (30/1/2020) sekitar pukul 15.00 Wita.
Kemudian kembali menuju Batukaru pada Kamis malam dengan melalui jalur yang sama.
Selama perjalanan, Ida Bhatara dan pengiring simpang dan menginap di sejumlah pura yang dilewati.
Dalam perjalanan, di depan rumah warga yang berada di jalur melasti, disiapkan makanan dan minuman bagi para pemedek atau pengiring.
Hal ini dilakukan warga sebagai wujud kebersamaan.
Sementara puluhan pemuda yang berasal dari sejumlah Sekaa Teruna (ST) di Desa Wongaya Gede yang tergabung dalam Komunitas Bisa Terbiasa memungut sampah dari iring-iringan melasti.
Mereka merupakan satu dari 20 lebih komunitas lingkungan yang digandeng oleh Dinas Lingkungan Hidup untuk ambil peran menjaga kebersihan selama Karya Agung Pengurip Gumi.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/prosesi-melasti-karya-pengurip-gumi-dari-pura-luhur-batukau-menuju-pura-luhur-tanah-lot.jpg)