Ngopi Santai

Jerit Perih Peternak Babi di Bali

Malah makin lantang mencabik langit Pulau Dewata lantaran kematian babi secara mendadak kian kencang saja.

Jerit Perih Peternak Babi di Bali
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Kondisi peternakan babi di Dusun Uma Salakan, Desa Takmung, Banjarangkan, Klungkung, Bali, Senin (20/1/2020). 

BABI itu hewan kaya lemak berhidung besar yang rakus makan dan jarang diam.

Apalagi kalau perutnya belum terisi, maka seisi kampung pun bisa mendengar ‘gerutuannya’ yang khas. Riuh rendah.

Sejak penghujung 2019 hingga jelang purnama kedua 2020, riuhnya kisah babi tak kunjung usai di Bali.

Malah makin lantang mencabik langit Pulau Dewata lantaran kematian babi secara mendadak kian kencang saja.

Januari 2020 berakhir dengan catatan miris. Peternak di Sarbagita: Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan tunggang-langgang menelan pil pahit. Mereka tak mendengar lagi riuhnya suara babi yang mengisi keseharian.

Jumlah babi yang mati bikin merinding. Seuntai kabar buruk menjelang Hari Raya Galungan yang mestinya membuat peternak tersenyum.

Laporan jurnalis Tribun Bali sejak bulan Desember 2019 -- mengutip pernyataan pejabat berwenang setiap kabupaten dan kota sebagai berikut.

Kota Denpasar 54 ekor, Kabupaten Badung 564 ekor, Gianyar 36 ekor dan Tabanan 527 ekor (sampai 31 Januari 2020). Nah kalau ditotalkan 1.181 ekor.

Jumlah sebanyak itu mati mendadak dalam rentang waktu sebulan lebih. Ngeri!

Data terbaru Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, per 31 Januari 2020 jumlah babi mati di Bali mencapai 888 ekor.

Halaman
1234
Penulis: DionDBPutra
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved