Pelaku Illegal Logging di Buleleng Mengaku Sudah Satu Tahun Beraksi

Pelaku illegal logging di hutan lindung Desa Pangkung Paruk, Kecamatan Seririt, Buleleng mengakui telah melakukan aksi pembalakan liar sejak satu tahu

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Polisi menunjukkan tiga pelaku illegal logging berserta barang bukti, Kamis (6/2/2020) 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Pelaku illegal logging di hutan lindung Desa Pangkung Paruk, Kecamatan Seririt, Buleleng mengakui telah melakukan aksi pembalakan liar sejak satu tahun belakangan ini.

Hal itu terungkap saat Kapolres Buleleng, AKBP I Made Sinar Subawa merilis kasus ini, Kamis (6/2/2020) siang di Mapolres Buleleng.

Tiga pelaku yang terbukti melakukan pembalakan liar ialah I Nyoman Sowambawa (43), Ketut Sudana alias Super (35), Ketut Widiasa alias Widia (54) yang seluruhnya berasal dari Desa Pangkung Paruk.

Tiga Babi Mati Mendadak di Biluk Poh Kangin Jembrana

Tuntut Tolak RUU Omnibus Law, Kirab Akan Gelar Aksi Lebih Besar, Jika Gubernur Bali Tak Lakukan Ini

Ruben Onsu Datangi Polda Metro Jaya, Diperiksa Terkait Kasus Isu Pesugihan, Roy Kiyoshi Terseret?

Di mana, untuk tersangka Sowambawa bertugas menunjukkan lokasi, sementara Super bertugas untuk memotong kayu, dan Widia bertugas untuk menjual kayu hasil illegal logging.

Namun saat ditanya dimana kayu-kayu hasil illegal logging itu dijual, AKBP Sinar mengaku masih melakukan pendalaman.

"Kami akan terus kembangkan kasus ini, kepada siapa kayu-kayu ini dijual, dan siapa saja yang terlibat. Kami tidak bisa berburuk sangka kepada siapa-siapa, karena untuk membuktikan itu harus didukung oleh alat bukti. Luas hutan lindung itu sekitar 700 hektar. Ada spot-spot tertentu yang mereka tebang," jelasnya.

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Bahaya Virus ASF Penyebab Ribuan Babi Mati di Bali

Metera Imbau Warga Ganti Kloset dengan Kendi, Tidak Pantas Menyandingkan Kloset dengan Pelinggih

Lowongan Kerja BUMN Terbaru, Pegadaian Hingga Hutama Karya

Dengan adanya kasus ini, AKBP Sinar menyebut akan meningkatkan pengamanan di wilayah hutan lindung Desa Pangkung Paruk, dengan melibatkan Polisi Kehutanan dan TNI Kodim 1609/Buleleng.

Terpisah, tersangka Widia mengaku baru satu kali ini menerima kayu hasil illegal logging dari tersangka Sowambawa dan Super.

Ia pun mengklaim belum sempat menjual kayu-kayu tersebut, karena kasus telanjur berhasil dibongkar oleh polisi dan TNI.

Hasil PL Jenazah Senawati, Dokter Forensik RSUP Sanglah Temukan Luka Akibat Benda Tumpul

China Hendak Jemput Warganya di Bali Gunakan Pesawat Boeing, Kru Diminta Tak Keluar Pesawat

17 WNA Ditolak Masuk Bali, Diharuskan Kembali Ke Negara Asalnya Hari Itu Juga

"Saya dihubungi oleh Sowambawa, disuruh ambil kayu. Baru mau menaikkan kayu ke atas mobil, langsung disergap oleh masyarakat dan perbekel. Saya langsung kabur, saya juga tidak tau kalau kayu yang ditebang itu dari hutan lindung," kilahnya.

Akibat perbuatannya, ketiga pelaku dijerat dengan pasal 82 ayat (1) huruf a atau b atau c, pasal 83 ayat (1) huruf b undang-undang RI Nomor 18 tahun 2013, tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan, dengan pidana paling lama lima tahun penjara, serta denda pung banyak Rp 2.5 Miliar. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved