Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Tips Sehat untuk Anda

Ini Tips Sederhana Menjaga Kesehatan Otak

Berolahraga sebelum mempelajari keterampilan motorik baru dapat membantu seseorang belajar lebih cepat

Tayang:
Gambar oleh ElisaRiva dari Pixabay
Foto ilustrasi otak manusia 

TRIBUN-BALI.COM - Menjaga kesehatan seluruh organ dalam tubuh memang sangat penting.

Namun mungkin ada yang jarang menjaga kesehatan otaknya.

Padahal kesehatan otak sama pentingnya dengan menjaga kesehatan jantung dan lainnya.

Karena otak merupakan organ yang berfungsi mengatur dan mengkordinir sebagian besar, gerakan maupun fungsi tubuh seperti detak jantung hingga suhu tubuh. 

Kapten Fadil Minta Pemain Bali United Jaga Kondisi Fisik, Jelang Laga Padat Februari & Maret 2020

Evaluasi Bali United Setelah Uji Coba: Harus Kurangi Kesalahan Dasar & Kerja Keras Tampil Maksimal

Kejar Target AFC, Pelatih dan Pemain Bali United Harus Kompak

Lalu bagaimana cara kita menjaga kesehatan otak ?

Ketika bicara soal menjaga kesehatan otak, yang terlintas adalah melatih otak dengan menyelesaikan puzzle, teka-teki silang atau memecahkan rumus yang sulit dalam matematika.

Namun, siapa yang benar-benar tertarik untuk memecahkan permasalahan aljabar?

Para peneliti di University of South Australia, Adelaide telah menemukan cara baru yang nyaman untuk menjaga kesehatan otak.

Menurut peneliti Dr. Ashleigh Smith dan mahasiswa PHD Maddison Mellow, otak sebenarnya dapat mengalami perubahan neuroplastisitas yang tinggi dengan 20 menit latihan interval atau 25 menit latihan aerobik sedang.

Neuroplastisitas mengacu pada kemampuan otak untuk mengubah atau memodifikasi koneksi sarafnya.

Hal itu sangat penting bagi perkembangan otak, seperti mempelajari keterampilan baru dan mempertahankan ingatan.

Untuk melakukan percobaan, kelompok yang terdiri dari 128 peserta diminta menyelesaikan satu latihan olahraga baik di sepeda latihan atau treadmill.

Beberapa peserta diminta melakukan latihan intensitas rendah dengan berlari atau bersepeda dengan kecepatan terus-menerus.

Sedangkan yang lain menjalani latihan interval intensitas tinggi, di mana denyut jantung dinaikkan untuk periode yang singkat.

Dr. Smith menyebut, "bersepeda atau berlari dengan kecepatan penuh tanpa memadukan tempo dapat meningkatkan hormon stres, kortisol, yang menghalangi efek positif."

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved