Ngopi Santai

Menunggangi Ombak

Para jurnalis, wartawan, editor tidak lagi menulis elok pada garis-garis bengkok demi benefit bagi publik.

Menunggangi Ombak
shutterstock
Ilustrasi 

MANTAN pimpinanku yang sudah belasan tahun pensiun, wartawan senior dari media terkemuka mengungkapkan kegundahannya ihwal kerja jurnalis masa kini.

Dia biasanya jarang berceloteh di akun medsos.

Namun, ketika perbarui statusnya beberapa hari lalu, sentilannya memancing perhatian mata.

“Saya dididik selalu berpikir positif. Namun sehari-hari melihat dan mendengar para pembawa acara TV selalu bekerja dengan pendekatan negatif. Padahal pikiran kita itu seperti tanah, jika ditanami jagung tumbuh jagung, tanam kedele tumbuh kedele. Jika pikiran kita "ditanami" hal-hal negatif, bukankah yang akan muncul perbuatan negatif, hal-hal yang tidak baik? Jurnalis kita lebih pentingkan judul daripada inti masalah bahkan sering tidak mau mendengarkan jawaban narasumber demi menggiring opininya sendiri. Apa itu yang juga diberikan kepada mahasiswa jurnalistik sekarang? Wah ambyar tenan!”

Lain lagi gerutuan pengamat media. Masih kerabatku juga.

“Seolah kecepatan adalah segalanya. Mayoritas portal berita online semata mengandalkan sumber dari medsos. Apa saja informasi yang berkeliaran di medsos langsung diolah sebagai bahan berita. Mereka mengabaikan prinsip cover both side apalagi cover all sides”.

Seniorku yang doyan mengikuti perkembangan bahasa Indonesia gemas.

Wartawan dan editor ‘zaman now’ rupanya gagal paham mengenai penggunaan kata “usai dan “seusai”.

Salah kaprah ”usai tak kunjung usai” sudah berlangsung terstruktur, sistematis dan masif. Hahaha..

Komentar berikut tak kalah menohok.

Halaman
1234
Penulis: DionDBPutra
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved