Ngopi Santai
Menunggangi Ombak
Para jurnalis, wartawan, editor tidak lagi menulis elok pada garis-garis bengkok demi benefit bagi publik.
Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
Bagaimana mungkin dapat menghasilkan liputan komprehensif bila cara kerja sebagian jurnalis masih seperti gambaran dalam contoh berikut ini.
Senangnya berkumpul di ruangan humas saja, press room atau apalah namanya.
Rajin menunggu keterangan polisi, pejabat humas atau juru bicara suatu instansi atau menanti penuh harap untaian kata press release.
Sumber-sumber itu dipandang cukup. Atas nama setia kawan, siapa paling lekas merajut berita mesti berbagi lekas pula kepada kawan-kawan.
Jadilah angle dan isi berita nyaris sama dan sebangun.
Hanya beda tipis di judul, kata pembuka atau paragraf pertama.
Kemudahan teknologi hari ini ikut menyuburkan praktik copy paste berita.
Reporter cloning. Dia tidak perlu repot menyusun kata dan kalimat sendiri.
Maka sebagian wartawan belakangan ini tak ubahnya juru bicara polisi, jaksa, pengacara atau pejabat pemerintah.
Wartawan rilis. Titik.
Tak tergerak otak dan hatinya untuk menjadikan rilis itu sekadar informasi awal.
Dia mestinya lebih rajin turun ke lapangan, bertemu semua pihak terkait dengan peristiwa, pelaku, korban, keluarga, kolega dan jaringannya. Mencari juga referensi terkait.
Dengan menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi niscaya karya jurnalistiknya akan kaya perspektif.
Laksana pelaut, jurnalis yang baik itu harus menunggangi ombak, bukan mengkhayal mengayuh
perahu dari daratan.
Dia mesti berada di tengah badai untuk mengecapi betapa indahnya pelangi permasalahan sosial.
Tatkala menggali dan mengumpulkan bahan berita atau tulisan, tak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki dan tak ada jurang yang terlalu dalam untuk dituruni seorang jurnalis.
Idealnya begitu. Berat? Ya pastilah.
Tapi bukan tidak mungkin dikerjakan kalau tuan dan puan mau menjadi jurnalis atau penulis
yang baik. Profesional!
Dalam simakrama (silaturahmi) dengan para jurnalis belum lama berselang, seorang CEO grup media di Jakarta memberi wejangan meneguhkan.
“Ketika kamu menulis dengan baik, maka pertama-tama itu adalah modal pribadimu bukan lembaga tempatmu mencari nafkah. Kamu bisa pindah tempat kerja atau medan pengabdian kapan saja. Tapi kecakapan menulis merupakan modal hidupmu sehingga akan lebih mudah diterima di manapun. Ada kiasan, jadilah koin karena serendah apapun nilainya tetap
dilirik atau dipungut orang. Jangan puntung rokok yang akan diremas lalu dimasukkan ke kotak sampah.”
Begitulah. Profesi jurnalis mensyaratkan sikap ikhtiar, terus mengasah kemampuan menulis hari demi hari.
Dari purnama ke purnama. Tak boleh berhenti selama hayat masih dikandung badan.
Rumitnya itu antara lain ada di sini.
Efa reformasi yang diwarnai deregulasi total di bidang penerbitan pers dan media massa tak
otomatis menghadirkan pers berwajah baik.
Reformasi memudahkan siapapun mendirikan media. Apalagi media baru (digital) jauh lebih
gampang caranya.
Cukup bermodalkan sekian juta rupiah sudah bisa bikin domain website news lalu unggah berita, foto dan video dan sebagainya.
Data Dewan Pers (2019) menyebutkan, jumlah media online di Indonesia kurang lebih 47.000.
Dari jumlah tersebut yang sudah terverifikasi Dewan Pers kurang dari 3.000.
Terbayangkan berapa banyak media digital yang hadir begitu saja memberikan informasi bagi masyarakat luas.
Si A yang kemarin bekerja sebagai kontraktor bangunan, misalnya, sontak alih profesi sebagai jurnalis karena sudah mendirikan media sendiri.
Kemudahan menjadi jurnalis meminggirkan pentingnya pendidikan dan pelatihan.
Proses rekruitmen seperlunya saja. Calon jurnalis tidak sungguh-sungguh dilatih sebelum terjun ke lapangan menggali bahan berita dan melaporkannya.
Asal paham sedikit unsur 5 W + 1 H dan bisa merangkai kata sudah boleh membuat berita.
Tidak penting amat apakah dia membuat kalimat sesuai kaidah bahasa Indonesia agar pesan
tersampaikan secara jelas dan benar.
Bermodalkan kartu identintas dari medianya, si jurnalis bangga berkeliling ke mana-mana, menemui narasumber, memperkenalkan diri sebagai wartawan.
Giliran menulis, kata dan kalimat berlepotan, melepoti logika dan rasa.
Dan, dia berlagak tanpa beban. Tak merasa khilaf apalagi salah.
Jangan tanya lagi apakah dia mengerti secuil pesan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel tentang sembilan elemen jurnalisme dan implementasinya.
Pada akhirnya memilih profesi jurnalis itu memang berat, seberat bisnis media di era generasi tik-tok ini yang membuat banyak orang tunggang-langgang.
Senjakala media cetak bukan isapan jempol belaka.
Jalan terjal menganga di depan sana akibat perangai disrupsi yang beringas dan tak terprediksikan.
Karena berat maka diperlukan usaha luar biasa lewat seperangkat daya kreasi dan inovasi.
Tak mungkin cuma setengah hati mengingat model bisnis media baru berubah lekas amat.
Life without problems is not a real life.
Hidup tanpa masalah bukanlah kehidupan yang nyata, kata kaum bijak bestari.
Memilih profesi jurnalis bukan tanpa masalah. Bisnis media bukan tanpa soal. Problem malah datang silih berganti, tumpang tindih selama kita masih bertemu matahari.
Demikianlah. Menjadi jurnalis kiranya tak semata merajut formula klasik 5 W tambah 1 H.
Jurnalis akan bergumul selalu dengan news value, bertengkar dan mencumbui realitas.
Dalam tugasnya bertengkar dan berdiskusi tentang realitas itu, wartawan sampai kapan pun mesti
menjaga kredibilitas dan integritasnya.
Tentu butuh ikhtiar tanpa akhir serta pengorbanan.
Hanya dengan itu, seorang jurnalis tetap cerdas dan bijak menjahit fakta sosial dalam nada dan langgam yang indah, dalam cara rupawan elegan.
Mencubit tanpa meninggalkan sakit hati. Keras menghela tanpa melukai, mencandai dinamika hidup masyarakat tanpa hujat mempermalukan.
Menulis untuk dipahami secara benar oleh semua orang dari anak milenial hingga opa dan oma.
Pembaca, pemirsa atau pendengar tidak hanya boleh melibatkan pikiran tetapi juga melegokan perasaan.
Silakan masuk ke lokus logika, mengendap ke dasar palung rasa, dari testa turun ke hati.
Dengan begitulah seorang jurnalis akan dikenang dalam karir panjang dan terhormat.
Inilah sekeping otokritik dan refleksiku menjelang peringatan hari pers 9 Februari 2020.
Pasti tidak sepenuhnya benar, malah banyak keliru dan kurang. Mohon maaf.
Saya hanya ingin mengajak rekan seprofesi untuk sejenak menghampiri jendela, menatap gerimis, mengusap senja, mereken seberapa tangguh kita akan bertahan.
Biarkan diri terpana memandang cakrawala. Di kaki langit dan daratan yang jengang itu selalu ada asa.
Selamat Hari Pers Nasional. Dirgahayu. (dion db putra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-pers.jpg)