Ngopi Santai

Menunggangi Ombak

Para jurnalis, wartawan, editor tidak lagi menulis elok pada garis-garis bengkok demi benefit bagi publik.

Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
shutterstock
Ilustrasi 

Akan tetapi problem besar sebagian jurnalis hari ini antara lain sikap kerja seadanya di tengah banjir bandang informasi.

Mereka enggan berusaha memverifikasi data dan fakta sehingga informasi yang masih sumir pun terpublikasikan.

Akibatnya bukan kabar baik yang tersaji tapi malah fake news atau kabar bohong yang meresahkan
khalayak.

Kecepatan seolah hantu.

Jurnalis cenderung menyajikan informasi sekadarnya di era digital yang mensyaratkan kegesitan.

Kedalaman dan kelengkapan terpinggirkan.

Yang penting jadi portal berita pertama yang mewartakan agar bisa menjaring kunjungan sebanyak-banyaknya.

Celakanya lagi ada yang senang click bait atau umpan klik.

Umpan klik merupakan suatu istilah peyoratif merujuk kepada konten web yang ditujukan untuk mendapatkan penghasilan iklan daring sambil mengorbankan kualitas atau akurasi informasi.

Caranya bikin judul bombastis, sensasional.

Jauh panggang dari api. Judul lain isinya lain. Tujuannya semata demi klik. Judul dibikin sedemikian rupa untuk menarik perhatian orang.

Jualan paling laris biasanya masalah seks, kasus kriminal dan kadang menyerempet isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Golongan).

Sejak dulu para guru jurnalistik acap mengingatkan bahwa peristiwa itu hanyalah kapstok alias gantungan baju. Ya sebagai gantungan saja.

Itu berarti jurnalis tidak hanya puas dengan apa yang dia liput, dia dengar, lihat dari sebuah kejadian atau peristiwa.

Jadikan peristiwa sebagai kapstok berarti seorang wartawan hendaknya membuat liputan lengkap dan komprehensif. Menjaga kedalamannya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved