Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Tanda Kamu Telah Kecanduan Pornografi, Begini Risiko Kecanduan Pornografi

Tanda-tanda kecanduan pornografi, gagal berulang kali untuk mengontrol hasrat mengonsumsi konten porno, begini risiko kecanduan pornografi

Gambar oleh Omar Medina Films dari Pixabay
Foto ilustrasi pria dan wanita yang sedang menonton 

TRIBUN-BALI.COM - Tribunners, apa kamu pernah menonton hal-hal yang berkaitan dengan pornografi ?

Film yang mengandung unsur pornografi masih mudah untuk di akses oleh beberapa orang. 

Biasanya orang-orang menonton hal-hal tersebut karena berbagai alasan.

Seperti penasaran hingga ikut-ikutan temannya.

Berisikan Tujuh Lagu, Ini Keistimewaan yang Ada di Mini Album Arti Sahabat Angel Band

Kain Geringsing Karangasem Laris di Pasaran, Alami Peningkatan Setiap Tahun

Status Singapura Oranye Virus Corona, Penerbangan Singapore Airlines Dari & Ke Bali Belum Terdampak

Semakin sering kamu menonton hal-hal yang bersifat pornografi, itu bisa membuatmu menjadi kecanduan.

Kecanduan pornografi adalah masalah yang biasanya berkembang di kalangan pria.

Ironisnya, dalam kadar tertentu, masalah ini bisa berdampak pada karir dan bahkan mengacaukan moral.

Laporan yang dirilis laman Huffington Post di tahun 2017 menyebutkan, situs porno paling banyak dikunjungi daripada situs tenar lain, seperti Netflix, Amazon, dan Twitter.

Berdasarkan statistik Pornhub Analytics, tahun 2018 sebesar 5,5 juta jam lebih telah dihabiskan banyak orang, untuk mengunjungi situs tersebut.

Perkembangan teknologi memang mempercepat dan mempermudah akses terhadap konten pornografi.

Menurut psikolog Luke Vu, kecepatan dan kemudahan akses ke realitas virtual pornografi membuat banyak pria bisa mengatur sendiri keinginan seksualnya.

Dia menyebut, kecanduan pornografi sebagian besar disebabkan oleh efek negatif internet dan tidak bersifat turun temurun.

Vu juga mengatakan, penyalahgunaan pornografi di internet sebagian besar disebabkan oleh teknologi.

"Gratis, mudah diakses, dan tentu saja alasan 'tidak ada yang tahu kamu menggunakannya'," ucap Vu.

Pornografi pada 1990an dan awal 2000an lebih sulit diakses.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved