Psikolog Jelaskan Fenomena Panic Buying Akibat Virus Corona
Memborong berdus-dus mi instan, berkarung-karung beras hingga berkantung-kantung tisu toilet yang sebetulnya tak ada gunanya untuk menangkal virus cor
Salah satunya adalah himbauan untuk "tidak panik" dari pemerintah atau bahkan media.
John Drury, seorang profesor psikologi sosial dari University of Sussex di Inggris yang meneliti psikologi kelompok berkata bahwa referensi terhadap panic buying sendiri mendorong kepanikan publik.
"Ketika pemerintah dan media massa memberi tahu kita bahwa tetangga kita sedang melakukan 'panic buying', kita membayangkan orang-orang di sekitar kita bertindak individualistik dengan buru-buru menimbun barang untuk dirinya sendiri," ujar Drury.
Hal ini, lanjutnya, membuat orang-orang lebih mungkin untuk memedulikan dirinya sendiri saja. Untuk menangkal fenomena ini, Drury pun menyarankan untuk mulai berpikir secara komunitas.
"Ketika orang-orang mulai berpikir terkait identitas sosial mereka, mereka akan jadi lebih kooperatif, lebih sungkan untuk mendorong antrian dan lebih rela berbagai stok yang menipis dengan orang asing, daripada ketika mereka hanya memikirkan identitas personalnya," ujar Drury. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penjelasan Psikologi di Balik Panic Buying Akibat Virus Corona
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-belanja_20160813_172552.jpg)