Pasca Pendaki Meninggal di Gunung Batur, Warga Gelar Upacara Mecaru dan Guru Piduka

Sejumlah ritual keagamaan dilakukan pasca musibah meninggalnya seorang pendaki di Gunung Batur.

TRIBUN BALI/MUHAMMAD FREDEY MERCURY
Warga menggelar upacara mecaru dan guru piduka pasca musibah meninggalnya seorang pendaki di Gunung Batur, Senin (9/3/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Sejumlah ritual keagamaan dilakukan pasca musibah meninggalnya seorang pendaki di Gunung Batur.

 Tak hanya dari pihak keluarga, pembersihan juga dilakukan oleh asosiasi pemandu.

Salah satu anggota Perhimpunan Pemandu Pendakian Gunung Batur (P3GB), Jro Mutu Adnyana menjelaskan sejatinya ritual keagamaan di wilayah Gunung Batur rutin dilakukan tiap tahun.

Yakni pada sasih kaenem dan kadasa. Sebab Gunung Batur dipercaya sebagai tempat yang suci.

Gara-Gara Miras, Hendrik Sayat Leher Rekannya

Perda RDTR Akan Segera Dirampungkan, Mengwi Akan Godok UMKM dan Pariwisata

Mencicipi Nikmat & Pedasnya Ayam Pelalah, Kunjungi 4 Warung Makan Populer di Bali

Namun demikian, ritual keagmaan juga bisa dilakukan sewaktu-waktu tatkala ada kejadian.

Salah satunya musibah jatuhnya pendaki dari Gunung Batur pada Minggu (8/3/2020).

"Menurut kepercayaan kami di Hindu, ini namanya leteh, karena ada yang meninggal di tempat suci. Oleh sebab itu dengan kejadian kemarin, wajib dilakukan mecaru lan guru piduka," ujarnya.

Lanjut dijelaskan, ritual mecaru tujuannya untuk melakukan pembersihan alam di Gunung Batur secara spiritual.

Selain mecaru juga digelar ritual Guru Piduka, yang bertujuan untuk meminta maaf kepada yang berstana di Gunung Batur.

"Selain itu kami juga nunas kerahayuan. Sehingga kedepannya segala aktifitas di Gunung Batur diberikan keselamatan dan warga disekitar mendspatkan kesejahteraan," jelasnya.

Jro Mutu Adnyana menambahkan ritual yang dimulai pukul 13.40 wita ini tidak hanya diikuti oleh asosiasi pemandu, maupun pihak keluarga korban.

 Ritual juga diikuti oleh warga sekitar, khsusnya yang merasa memiliki penghidupan di wilayah pendakian Gunung Batur.

"Mereka yang ikut ini ada yang tukang ojek, ada yang buka warung disekitar. Ini hanya perwakilan saja, sekitar 70 hingga 80 orang lah. Kalau berkumpul semuanya bisa sampai 500an," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved