Halo Matahari di Kuta

Fenomena Halo Matahari Terakhir Terjadi Januari 2020, Hari Ini Terpantau Terjadi di Daerah Ini

Fenomena Halo Matahari merupakan fenomena optis karena adanya pembiasan/perpendaran sinar matahari oleh awan cirrus

TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Fenomena Halo Matahari terlihat di kawasan Kuta, Badung, Selasa (10/3/2020). Fenomena halo matahari yang merupakan fenomena optis berupa lingkaran cahaya di sekitar matahari yang muncul karena ada pembiasan sinar matahari oleh awan tipis cirrus yang berada pada ketinggian sekitar 6.000 meter dari permukaan bumi. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Kadek Rika Riyanti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kepala Bidang Data Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Iman Faturahman mengatakan pihaknya menerima pemberitahuan mengenai adanya fenomena Halo Matahari di Bali pukul 12.18 WITA, Selasa (10/3/2020).

Menurut hasil laporan, fenomena tersebut telah diamati terjadi di daerah Kuta, Badung dan Denpasar.

Kendati tak berlangsung lama, Iman Faturahman menyebutkan kemungkinan Halo Matahari ini bisa saja terjadi selama sejam.

“Fenomena ini tidak berlangsung lama, tergantung dari adanya butiran-butiran es pada awan cirrus. Kalau memang dia (awan cirrus) bertahan selama itu bisa sampai satu jam,” ungkapnya kepada Tribun Bali melalui sambungan telepon, Selasa (10/3/2020).

Italia Dikarantina, KBRI Roma Hentikan Sementara Layanan Konsuler

Pengusaha Hotel dan Restaurant Tetap Hitung Pajak, Hibah Pusat Diupayakan Sesuai Jumlah PHR Masuk

Hari Terakhir Penjaringan, Dua Desa di Klungkung Belum Ada Calon Perbekel

Menurut catatan hasil observasi yang dihimpun (BMKG), fenomena Halo Matahari ini terakhir terpantau terjadi di Gunung Batur, Kintamani, Bangli, Bali pada Januari 2020.

“Ini juga siang terjadinya,” katanya.

Perlu diketahui bahwa, fenomena Halo Matahari merupakan fenomena optis oleh karena adanya pembiasan/perpendaran sinar matahari oleh awan cirrus (awan tinggi) yang mengandung sedikit uap air dan butiran es.

Fenomena ini tak perlu dikhawatirkan karena tidak menunjukkan sesuatu hal lain (bencana).

“Fenomena ini bisa terjadi kapan saja, jadi tidak bisa diprediksi seperti fenomena lainnya,” tutupnya. (*)

Penulis: Ni Kadek Rika Riyanti
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved