Ngopi Santai
Mengapa Kini Orang Lebih Mudah Nyinyir daripada Mikir?
Waktu semua orang sama, 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tetapi mengapa hanya sangat sedikit orang yang menciptakan ide-ide dan karya besar?
Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Menemani kawan dari Jakarta, sekitar sebulan lalu saya ikut terlibat dalam sebuah obrolan dengan seorang pengusaha pariwisata di Bali.
Obrolan itu off the record alias bukan untuk kepentingan publikasi. Topik utamanya sebetulnya tentang hukum, namun satu hal yang sempat disinggung oleh pengusaha itu cukup membekas di pikiran saya. Hal itu ada kaitannya dengan penggunaan telepon seluler (ponsel). Dan untuk yang satu ini, si pengusaha tak keberatan saya mencupliknya.
Tersandung kasus penipuan bisnis, pemilik resor mewah di Bali barat itu dinyatakan bersalah dan divonis 3,5 tahun penjara pada awal tahun 2018. Namun kemudian, upaya hukum berupa Peninjauan Kembali (PK) yang diajukannya dikabulkan oleh Mahkamah Agung (MA). Ia dinyatakan tidak bersalah dalam perkara pidana itu, sehingga dibebaskan sejak Januari 2020. Kasusnya dinyatakan sebagai perkara perdata.
“Larangan menggunakan ponsel dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) adalah salah-satu yang saya syukuri selama saya dipenjara. Itu membuat saya lebih fokus dan khusyuk dalam mendekatkan diri pada Tuhan. Sebetulnya, mencuri-curi kesempatan untuk pakai ponsel ya bisa saja. Tapi, tanpa ponsel, saya justru merasa lebih intens dalam beribadah. Tidak ada distraction (pengalih perhatian). Saya mungkin hanya seminggu sekali pakai ponsel untuk berkomunikasi dengan keluarga atau jika ada hal yang sangat urgent. Masa di penjara adalah masa belajar yang berharga bagi saya, banyak sekali hikmah. Saya anggap ini seperti pendidikan di ‘pesantren`,” kata pengusaha itu.
• Mengapa Makin Banyak Orang Kesepian di Tengah Keramaian?
• Ponsel dan Selera Makan, Apa Hubungannya?
***
Dewasa ini siapapun sepertinya mustahil untuk bisa lepas dari gadget, khususnya ponsel (smartphone). Namun, secuplik kisah pengusaha tersebut mengandung pesan kuat bahwa membatasi penggunaan ponsel adalah hal yang seharusnya berani kita coba.
Penulis buku Digital Minimalism, profesor Cal Newport, pun menyampaikan pesan senada.
Tentu saja, kita tidak harus masuk ‘pesantren’ Lapas lebih dulu seperti pengusaha itu untuk menemukan cara terbaik dalam menggunakan piranti teknologi, khususnya smartphone.
Dua tahun lalu, Cal Newport (guru besar Ilmu Komputer di Georgetown University, AS) berhasil meyakinkan 1.600 orang untuk mengikuti tantangan darinya, yang disebutnya bisa benar-benar mengubah hidup mereka.
Apa tantangan itu?
Untuk kepentingan risetnya, Newport meminta 1.600 orang itu untuk “puasa” selama 30 hari dari menggunakan piranti teknologi, terutama ponsel. Tentu saja tantangan tersebut disodorkan asalkan “puasa ponsel” itu tak membuat mereka dipecat dari pekerjaan, bercerai atau mengakibatkan orang yang dicintai jadi murka.
Singkat cerita, orang-orang itu diminta untuk mengucapkan selamat tinggal pada media sosial (medsos) terutama pada Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain selama sebulan.
Namun, untuk hal-hal yang sangat primer dan keharusan, mereka masih boleh menggunakan ponsel dengan disertai batasan-batasan. Aturannya antara lain begini: boleh cek email tapi hanya di jam-jam yang ditentukan; pun boleh lihat layar ponsel namun hanya terbatas pada jam-jam tertentu.
Apa yang terjadi kemudian?
Ternyata, tak seorangpun yang mengikuti tantangan profesor Newport itu sampai jadi edan gara-gara “puasa ponsel”.