Corona di Indonesia
Awas, Fenomena Gunung Es Corona, Masyarakat Harus Disiplin Karantina
Awas Fenomena Gunung Es Corona, Masyarakat Harus Disiplin Karantina, Di setiap tempat tinggal benar-benar steril.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwongeoro
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ahli virus menyarankan agar segenap masyarakat lebih aware melakukan karantina mandiri untuk mencegah penyebaran wabah virus corona (Covid-19).
Sebagaimana imbauan Presiden Joko Widodo masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, yakni dengan bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan ibadah di rumah.
Hal itu jangan sampai disepelekan, agar penanganan Covid-19 lebih maksimal karena cara itu dinilai efektif untuk memutus rantai penyebaran virus.
Sebab, yang patut diwaspadai adalah munculnya fenomena semacam gunung es dalam penyebaran kasus ini.
• Kabel Bekas dan Sampah Sumbat Drainase di Pasar Tusan Klungkung
• Melasti di Tengah Wabah Corona, PHDI: Cukup Ngayat Jika Jauh dari Lokasi Ini
• Minimalisir Kerumunan Orang, RSD Mangusada Tiadakan Jam Kunjung Pasien
Di mana selain data kematian, data klinis dan data kasus yang terlihat (visible cases) di balik itu terdapat invisible cases dan asymptomatic infection
"Terdapat fenomena gunung es, yang patut diwaspadai bersama adalah yang di bawah permukaan, mereka dengan sakit ringan golongan invisible cases dan tidak sakit dalam golongan asymptomatic infection," kata Ahli Virus Universitas Udayana Bali, Prof. Mahardika saat berbincang dengan Tribun Bali di ruang kerjanya, Fakultas Kedokteran Hewan, Denpasar, Bali, Selasa (17/3/2020).
Prof. Mahardika menjelaskan, golongan invisible cases dan asymptomatic infection atau orang tidak sakit inilah karena tidak terdeteksi dan berpotensi menyebabkan ledakan penyebaran virus.
Oleh sebab itu, yang diperlukan saat ini adalah menghindari kerumunan, karantina diri di rumah, tidak keluar rumah jika memang tidak ada keperluan yang memang mendesak.
Di setiap tempat tinggal benar-benar steril.
"Akan banyak sekali kasus yang tidak kelihatan karena tidak didiagnosis, karena virus corona misalkan dari 1.000 orang terinfeksi, tidak semua dari mereka menunjukkan gejala klinis, dan berapa persen di antaranya yang dalam kondisi perlu diisolasi hingga ada yang meninggal dunia," jelasnya.
Jika dilihat dari pattern fatalitas kasus, maka dalam Covid-19 polanya masih cenderung ke orang yang sudah sepuh atau lanjut usia di atas 60 tahun dengan penyakit bawaan seperti jantung, diabetes atau degeneratif lainnya.
"Kita wait and see juga, pola fatalitasnya seperti apa, apakah jumlah yang sakit anak-anak kemudian banyak dan usia produktif 14-50 tahun, yang dikhawatirkan adalah second wave yang lebih besar dari Wuhan," ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ahli-virus-universitas-udayana-bali-prof-mahardika.jpg)