Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Melasti di Pantai Padang Galak Denpasar, Dulu 5000 Kini 18 Orang

Kini pelaksanaan melasti tak meriah, tak ada mengusung pratima, dan tak melibatkan banyak orang.

Tribun Bali/Rizal Fanany
Umat Hindu melaksanakan Melasti di Pantai Padang Galak, Denpasar, Minggu (22/3/2020). Pelaksanaan melasti kali ini hanya diikuti maksimal 25 orang dari setiap desa adat yang bertujuan untuk mencegah penyebaran Virus Corona. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tak seperti pelaksanaan melasti tahun 2019 lalu.

Kini pelaksanaan melasti tak meriah, tak ada mengusung pratima, dan tak melibatkan banyak orang.

Hal itu terlihat di Pantai Padang Galak Denpasar, Bali, Minggu (22/3/2020).

Peserta melasti hanya ratusan orang, di mana satu desa adat yang hadir hanya perwakilan yang tak lebih dari 25 orang.

Bali Punya Petuah Diam di Rumah di Musim Sakit, Pemerintah Terapkan Social Distancing Dua Pekan

Lakukan Desinfeksi ? Perhatikan Beberapa Prosedur Ini

Ini Perbedaan Utang Produktif dan Konsumtif, Apa Kamu Sudah Tahu ?

Bahkan Desa Adat Peguyangan hanya melibatkan 20 orang untuk hadir dalam melasti ini.

Hal tersebut diungkapkan Bendesa Desa Adat Peguyangan, I Ketut Sutama.

"Kami di desa adat dalam rangkaian hari raya Nyepi tahun ini dengan situasi siaga bencana Covid-19 mengikuti imbauan dari pemerintah untuk sedikit berkumpul, desa adat krama desa menjaga keselamatan kita bersama," katanya.

Tahun ini peserta melasti atau makiis hanya perwakilan dari pemangku dan prajuru.

Sementara yang diusung ke pantai hanya sarana upakara saja.

Sedangkan pratima pralingga ngayat dari Pura Desa.

"Kami juga dalam pelaksanaan di pura sudah sangat mengurangi masa. Hanya perwakilan pemangku yang datang. Persembahyangan dilakukan di merajan masing-masing rumah," katanya.

Pada tahun-tahun sebelumnya warganya yang ikut melasti capai 5000 orang lebih.

Namun kini hanya 20 orang saja.

"Kalau dulu masanya di desa adat Peguyangan banyak karena ada dua yakni Kelurahan Pegunyanhan dan Desa Peguyangan Kaja jumlah KK sudah lebih 2000 KK sehingga yang hadir lebih dari 5000 an orang," katanya.

Walaun sedikit namun Ia mengaku tak mengurangi makna melasti ini.

"Yang dibawa ke segara hanya upakara lalu kita nunas tirta nanti tirta digunakan di desa. Untuk Tawur Kasanga sama dengan ini tanpa mengerahkan warga. Warga tetap sembahyang dari sanggah atau merajan masing-masing," katanya.

Hal yang sama juga diungkapkan Bendesa Desa Adat Tonja, Made Budiasa.

"Kami mengikuti intruksi Gubernur dan kesepakatan bersama Walikota dan Majelis Desa Adat serta bendesa se-Denpasar tanggal 20 Maret kemarin," katanya.

Dalam pelaksanaan melasti ini hanya dikerahkan 18 krama saja ke segara.

"Kami ke segara ini ngaturang guru lan bendu piduka, kedua pakelem, ketiga nunas malarapan soda nunas tirta amerta di segara yang dipundut ke Bale Agung," katanya.

Sementara untuk pratima tak diusung ke pantai dan dilaksanakan secara ngubeng di Pura Bale Agung.

"Tahun lalu hampir semua turun dan sangat meriah. Tahun lalu hampir 5000-an yang datang hanya 18 orang. Hanya pengawin saja, dua pengawin desa dan dalem yang dibawa," katanya.

Ia berharap dengan menghaturkan guru dan bendu piduka dan menambahkan upakara caru panca sato di Pura Bale Agung dan menghaturkan caru eka sata ayam brumbun di Ulun Setra agar butha kala dalam wujud virus ini segera dinetralkan.

"Untuk parade ogoh-ogoh di tempat kami kini memasuki yang ke delapan. Tapi kami tunda sampai kondusif," katanya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved