Mengeluh Sepi Pembeli, Beberapa Pedagang di Pasar Badung Memilih Tutup Lebih Awal
Kamis (2/4/2020) siang, suasana di Pasar Badung, Denpasar, Bali, terlihat lengang. Lebih lengang dari hari biasanya yang cukup ramai
Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kamis (2/4/2020) siang, suasana di Pasar Badung, Denpasar, Bali, terlihat lengang.
Lebih lengang dari hari biasanya yang cukup ramai.
Beberapa pedagang terlihat duduk-duduk, ada yang bercengkrama dengan pedagang lain, ada pula yang sudah berkemas menutup lapaknya.
Tak hanya itu, beberapa lapak di lantai 2, 3, dan 4 terlihat tutup lebih awal.
Mereka mulai menutup lapak pukul 12.00 Wita, yang biasanya tutup pukul 17.00 Wita.
"Ini kebanyakan tutup lebih awal karena sepi," kata salah seorang pedagang alat-alat upakara, Wayan Winasih, yang berjualan di lantai dua sambil berkemas.
Dirinya mengatakan, sejak beberapa hari terakhir ini situasi pasar benar-benar sepi.
Katanya, sudah menunggu dari pukul 05.00 Wita, tapi baru dapat jualan pukul 12.00 Wita.
"Tadi pagi untungnya dapat jualan, karena hari ini kan ada ngaturang pejati. Kemarin benar-benar sepi, saya jam 12 siang baru dapat garus. Karena sepi ini makanya tutup lebih awal, biasanya tutup jam 5 atau 6 sore," katanya.
Dikarenakan sepinya pembeli, dirinya pun mengeluh tak bisa bayar utang.
Hasil berdagangnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
"Ya begini keadaannya sekarang. Mayah utang sing nyidaang (bayar utang tidak bisa)," katanya.
Pedagang lain, Komang Puri juga mengeluhkan hal yang sama.
Yang biasanya dirinya mampu meraup omzet Rp 2 juta dalam sehari, kini hanya Rp 1 juta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/suasana-di-pasar-badung.jpg)