Corona di Bali
Kisah Seorang Perawat di Buleleng Usai Sembuh dari Covid-19, Sempat Ditolak Masuk Rumah Kontrakan
IGAAM sudah hampir 10 tahun bekerja di ruang Lely. Ruangan itu khusus untuk merawat pasien dengan penyakit infeksi
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Wema Satya Dinata
Mereka adalah IGAAM bersama satu orang bidan yang juga bertugas di ruang isolasi RSUD Buleleng, serta satu orang sopir yang sempat menjemput PDP 03 di bandara.
"Padahal saya tidak batuk, flu dan demam. Saya kabarkan ke suami dan keluarga bahwa saya positif. Mereka sempat kaget. Saya sudah berusaha menjaga agar tubuh tetap bersih, setiap hari sampai lima kali mandi dan keramas, tapi akhirnya bisa terinfeksi juga. Saya dan keluarga bisa menerima, karena ini sudah jadi risiko pekerjaan," ucap IGAAM saat dihubungi melalui saluran telepon, Senin (6/4/2020).
Setelah divonis positif corona, praktis IGAAM juga harus dirawat di ruang isolasi RSUD Buleleng. Ia dirawat bersama tiga pasien positif lainnya, yakni PDP 03, PDP 06 dan PDP 07.
"Di ruang isolasi kami saling support. Petugas medisnya juga kami bilang harus semangat, jangan takut. Selama di ruang isolasi kami diberikan treatment dan vitamin," terangnya.
Selang satu minggu menjalani perawatan, kabar baik diterima oleh IGAAM, bersama PDP 06 dan PDP 07.
Berdasarkan swab yang dua kali dilakukan, ketiganya dinyatakan telah sembuh alias negatif dari virus corona.
IGAAM pun pulang pada Sabtu (4/4) malam kemarin. Namun ia tidak dijemput oleh keluarga. Melainkan diantar oleh rekan kerjanya, dengan alasan masih harus menjalani isolasi mandiri selama satu minggu di rumah kontrakannya.
Namun setibanya di rumah kontrakan, IGAAM sempat mendapatkan perilaku yang kurang enak dari sang pemilik kontrakan.
Tepat di depan pintu, tertempel sebuah kertas bertuliskan imbauan agar IGAAM segera mengosongkan rumah.
Ia pun mengaku sempat sedih melihat surat imbauan itu, lalu melaporkannya kepada dokter serta suaminya.
"Suami saya sempat marah, sampai bikin status di FB. Saya juga sempat nelpon dokter yang merawat saya di rumah sakit, agar dicarikan jalan keluarnya. Sampai akhirnya Pemkab turun tangan, dan menugaskan Camat Buleleng untuk memberikan pemahaman kepada pemilik kontrakan bahwa saya sudah sembuh. Setelah itu akhirnya pemilik kontrakan paham, dan saya boleh tinggal lagi di rumah itu," tuturnya.
Meski sempat terinfeksi virus corona, IGAAM menyatakan siap untuk kembali ditugaskan di ruang isolasi RSUD Buleleng bila dibutuhkan.
"Saya tidak trauma, karena ini memang pekerjaan saya. Untuk masyarakat Buleleng sebaiknya tidak panik dengan adanya wabah ini. Ikuti anjuran pemerintah, melakukan social distancing dan selalu jaga kebersihan tubuh. Astungkara orang yang pernah terinfeksi juga bisa sembuh," tutupnya. (*)