Ngopi Santai
Inspirasi dari Seminari
PERGUMULAN sedang dihadapi kepala sekolah dan guru sekolah ternama di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, SMA Katolik Syuradikara Ende.
Penulis: DionDBPutra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Ada pula di kos mandiri serta rumah orangtua atau wali.
Bila skenario pertama yang terjadi, mereka harus kembali ke Ende pada pekan terakhir bulan ini.
Masuk lagi asrama sekolah, kos atau rumah keluarganya di kota elok dan bersejarah itu.
“Anak-anak kami ini datang dari mana-mana termasuk dari zona merah, apakah aman dari virus corona?” kata Heri Bata retoris.
Sulit menjawab bukan?
Ayo, siapa yang hari ini menjamin bahwa setelah 21 April 2020 Covid-19 benar-benar aman di wilayah NKRI sehingga anak sekolah kembali KBM sebagaimana biasa.
Kiranya tak seorang pun berani memastikan sehingga pergumulan pimpinan dan staf pengajar SMAK Syuradikara Ende niscaya dirasakan pula kolega mereka di sekolah lainnya termasuk di Bali.
Inspirasi dari Seminari
Mari sejenak menengok kebijakan seminari.
Tepatnya Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko sebagai contoh.
Seminari itu terletak di Kabupaten Ngada, NTT.
Usianya hampir satu abad.
Seminari sarat pengalaman termasuk melewati krisis pelik seperti Perang Dunia II.
Saya berterima kasih kepada Romo Yohanes Moses Songkares, Pr, sekretaris komunitas Seminari Menengah Mataloko yang mau berbagi kisah ini.
Romo Nani, demikian beliau karib disapa, mencatat apik bagaimana seminari tertua di Flores tersebut menyikapi pandemi Covid-19.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/foto-ilustrasi-anak-anak-yang-sedang-belajar.jpg)