Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Pandemi Virus Corona Berefek pada Kesehatan Mental Seseorang, Ini Penjelasan Psikolog

Membatasi pertemuan dan hanya tinggal di rumah dalam waktu lama tentu berpengaruh pada kesehatan mental.

Editor: Wema Satya Dinata
Gambar oleh Orna Wachman dari Pixabay
ilustrasi pria di tengah pandemi Covid-19 

TRIBUN-BALI.COM - Virus corona jenis baru atau Covid-19 dilaporkan pertama kali muncul pada Desember 2019 di Negara Tirai Bambu, China.

Virus yang menyebabkan gangguan pernafasan itu kini menyebar ke hampir semua negara di dunia.

 Tiga bulan setelah laporkan pertama di Wuhan, China, virus itu telah menjangkit di Indonesia.

Melihat sebaran virus corona, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah mendeklarasikan Covid-19 sebagai pandemi global.

Kemendes PDTT Izinkan Dana Desa Dipakai BLT untuk Warganya, Segini Nominal yang Didapat per Keluarga

6.100 Karyawan BPJAMSOSTEK Potong Gaji Untuk Beri Donasi Relawan dan Tenaga Medis Tangani Covid-19

Rumah Sakit Didier Drogba Jadi Pusat Perawatan Covid-19 di Pantai Gading

 Di Indonesia sendiri, sudah lebih dari sebulan melaporkan adanya kasus virus corona Covid-19 setelah pasien 1 dan 2 diumumkan pada 2 Maret 2020.

Sebagai upaya menghentikan laju penyebaran virus, masyarakat diminta berdiam di rumah dan mengurangi kegiatan di luar rumah.

Membatasi pertemuan dan hanya tinggal di rumah dalam waktu lama tentu berpengaruh pada kesehatan mental.

3 efek pandemi corona

Psikolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Laelatus Syifa mengungkapkan, kondisi pandemi virus corona ini memberikan tiga efek psikologis bagi seseorang, yakni krisis, uncertainty (ketidakpastian), dan loss of control.

"Untuk efek krisis ditandai dengan datang mendesak secara tiba-tiba tanpa persiapan, dan memiliki efek negatif yang menekan," ujar Latus saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (14/4/2020).

Kemudian, untuk efek ketidakpastian, umumnya dirasakan seseorang dengan kekhawatiran kapan kondisi ini akan berakhir, kapan bisa kembali bekerja di perkantoran atau bertemu dengan banyak orang atau sanak saudara kembali.

Sedangkan untuk efek "loss of control", Latus mengungkapkan, orang hanya dapat melihat atau mendengar tanpa bisa melakukan hal apa pun.

 "Permisalan dari efek loss of control ini adalah kita bisa melihat bahwa angka kematian terus naik, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa," ujar Latus.

 Dia menambahkan, kondisi ini memicu munculnya stres.

Semakin tinggi stres seseorang, maka semakin besar seseorang untuk tidak patuh terhadap aturan. Sementara itu, munculnya stres juga dapat diakibatkan dari faktor perekonomian, urusan keluarga di mana kondisi ini pun cenderung membuat seseorang tidak mau mematuhi aturan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved