Corona di Bali

Pandemi Covid-19, Pedagang Bermobil Marak, Omzet Jutaan Jadi Ratusan Ribu

Pandemi Corona atau Covid-19 melukiskan dilematika kisah baru bagi para pelaku pariwisata dan sektor informal di Pulau Dewata.

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Rian Jaya Wiguna (28) banting setir dari dagang baju Bali menjadi penjual telur ayam di Jalan Cok Agung Tresna, Denpasar, Bali, Selasa (12/5/2020). 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pandemi Corona atau Covid-19 melukiskan dilematika kisah baru bagi para pelaku pariwisata dan sektor informal di Pulau Dewata.

Seperti yang dialami Rian Jaya Wiguna, Pria asal Bangli ini, bertahun-tahun hidup dengan penghasilan yang bisa dibilang cukup besar sebagai pedagang baju Bali dan peternak ayam.

Pandemi covid-19 kini memaksa ia banting setir dengan menjual telur-telur ayam dari peternakannya dengan keuntungan hanya Rp 1.000 per butir.

Pria berusia 28 tahun itu mulai berjualan telur ayam sejak bulan Februari 2020 lalu dibantu istrinya menggunakan mobil pribadi sebagai lapaknya dengan tulisan harga telur yang dijual ditempel di beberapa bagian mobilnya.

Awal dari Jalur Karier Baru hingga Mendapatkan Pekerjaan Baru, Ini 10 Arti Mimpi Tentang Hamil

 

"Saya sebelumnya usaha jualan baju Bali di hotel-hotel, dari 10 tahun yang lalu, karena pariwisata sepi otomatis dagangan juga sepi.
Pas jual baju sehari Rp 4-5 juta kotor, bersihnya Rp 1,2 juta. Sekarang saya hanya berjualan telur ayam ini. Pendapatan turun drastis," katanya saat dijumpai Tribun Bali di Jalan Cok Agung Tresna, Denpasar, Bali, Selasa (12/5/2020)

Telur yang ia jual berasal dari peternakan milik pribadi di Kabupaten Bangli milik pamannya yang ia jalankan sejak 5 tahun lalu, setiap hari ia menempuh perjalanan dari Bangli ke Denpasar untuk menjual telur ayam.

"Biasanya saya distribusikan ke hotel-hotel dan pengepul, sehari bisa 400-450 krat, kalau sekarang ini hanya 30 krat paling yang laku, yang dibawa dimobil untuk stock sekitar 180 krat," katanya.

Tiap satu krat telur ayam ia jual dengan harga Rp 34 - 36 ribu, untuk partai banyak ia jual lebih murah, Rian juga menjualnya secara eceran.

Ia berharap saat Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) yang diberlakukan mulai 15 Mei hingga 14 Juni 2020 nanti tidak memberikan dampak lebih ke usaha yang kini ia jalankan itu demi menghidupi istri dan anaknya yang berusia 3,5 tahun.

"Tanggal 15 Mei nanti ada PKM, bagaimana itu caranya tetap jalan, harus dipikirkan agar perekonomian tetap jalan, harga telur juga sudah anjlok. Saat ini belum ada larangan, takutnya dilarang," ucapnya.

Selain itu, ia juga memiliki angsuran kredit berupa mobil, sepeda motor dan handphone, mencapai senilai Rp 4 juta per bulannya.

"Saya mendapatkan relaksasi membayar bunganya saja Rp 600 ribu untuk motor, kalau normal sekitar satu juta rupiah, mobil masih 2 tahun," pungkasnya.

Fenomena maraknya pedagang bermobil juga terlihat di sejumlah titik di Kota Denpasar, seperti Jalan Cokroaminoto, Jalan Diponegoro dan di Jalan Cok Agung Tresna serta kawasan lainnya. (*)

Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved