3 Bocah di Denpasar Hidup Penuh Keterbatasan Bersama Kakek Neneknya, Si Sulung Semangat Belajar
Meskipun, kakek dan neneknya hidup dengan penuh kesederhanaan dan keterbatasan di rumah bedeng berukuran sekitar satu are di Jalan Patih Nambi
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Dinas Sosial Telusuri Keberadaan Ibu dari Ketiga Bocah
Bersamaan dengan liputan wartawan Tribun Bali, terlihat aktivitas dari Dinas Sosial Kota Denpasar berkunjung untuk meninjau langsung kondisi keluarga tersebut.
Kepala Bidang Rehanilitasi Sosial Dinsos Kota Denpasar, Anak Agung Ayu Diah Kurniawati memimpin peninjauan bersama jajarannya.
AA Ayu Diah mengatakan setelah peninjauan ini, segera berkoordinasi dengan Dinsos Buleleng dan Provinsi Bali sebagai tindaklanjutnya, karena secara administratif ketiga anak ini masih terdata sebagai warga di Sudaji, Buleleng.
"Di sini ada anak-anak dan lansia yang perlu mendapatkan perlindungan. Untuk tindak lanjutnya kami koordinasikan dengan Dinsos Provinsi Bali, secara administrasi mereka masih terdata di Sudaji, Buleleng, kami upayakan yang terbaik," katanya
Pihak Dinsos Kota Denpasar mengaku berfokus pada keberlanjutan pemenuhan pendidikan pada anak-anak tersebut karena bagaimanapun pendidikan dasar anak-anak ini kedepannya adalah menjadi tanggung jawab pemerintah.
Gede Suardika (9) naik dari kelas 3 ke kelas 4 sekolah dasar, sedangkan adiknya Kadek Sugiadnyana (6,5) mulai beranjak dari TK ke kelas satu sekolah dasar.
"Fokus kami dengan pendidikan anak-anak, segala keperluan pendidikan kan harus dipenuhi, selain itu tempat tinggal yang layak bagi mereka, mereka kan ngontrak kemungkinan kedepannya mereka akan tersisih dengan kondisi kumuh seperti ini, setidaknya akan dikontrakkan yang lain, kita pikirkan kakek nenek juga," ujar AA Ayu Diah
Dinsos juga mengupayakan koordinasi dengan panti, akan tetapi hal itu jika ada izin dari keluarga (pihak kakek dan nenek), sebab anak-anak ini masih dalam pengawasan kakek nenek.
Dijekaskannya, pemerintah boleh mengambil alih, tapi karena masih ada keluarga yang lain sehingga harus ada koordinasi.
Sebab tinggal dengan kondisi seperti ini kan riskan bagi kesehatan apalagi kondisi sekarang di tengah pandemi covid-19.
"Kami pastikan kondisi sosial seperti ini diupayakan mendapat bantuan. Kalau Program bedah rumah harus sertfiikat sedangkan ini kan mengontrak. Kita upayakan mereka tinggal di lingkungan yang memenuhi kesehatan," bebernya
"Sebagai langkah alternatif bisa dikondisikan dengan panti. Tapi mereka (kakek nenek) masih mau seperti ini, karena sangat sayang sama cucunya yang bayi 6 bulan bahkan mau diasuh oleh sebuah keluarga tidak diperkenankan," imbuhnya
Pada saat kunjungan itu, terjadi momen mengharukan, salah satu perangkat desa setempat, Wayan Sukarta (51) mengaku hatinya tersentuh dan ingin mengadopsi bayi Komang Budisuari yang baru berusia 6 bulan.
Namun sang nenek, Luh Ngebek seakan benar-benar tidak ingin lepas dari cucu yang sangat ia sayangi itu.