3 Bocah di Denpasar Hidup Penuh Keterbatasan Bersama Kakek Neneknya, Si Sulung Semangat Belajar
Meskipun, kakek dan neneknya hidup dengan penuh kesederhanaan dan keterbatasan di rumah bedeng berukuran sekitar satu are di Jalan Patih Nambi
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
"Saya sangat tersentuh, dan istri ingin anak perempuan, anak saya satu laki-laki, saya mau mengasuhnya," ungkap Wayan Sukarta.
Pada kesempatan yang sama, Kadus Batumekaem, Banjar Tulangampiang, Putu Agus Budi Saputra bersama Kelian Adat setempat Wayan Budiasa sepakat untuk terus membantu dan memantau perkembangan serta menjadi fasilitator antara warga tersebut dengan pemerintah agar mengupayakan yang terbaik.
"Melihat kondisi ini kami langsung menyampaikan ke Dinsos, saya juga ke ke DPRD sudah saya ajak untuk atensi langkah-langkahnya. Fokusnya ke ketiga anak ini," ungkap Putu Agus Selasa (9/6/2020) lalu.
Pantauan Tribun Bali di lokasi saat itu, juga terdapat sebuah komunitas relawan datang memberikan bantuan berupa susu formula dan kebutuhan pokok lainnya kepada keluarga tersebut.
Perkembangan terakhir, Kamis (11/6/2020), Dinas Sosial berkoordinasi dengan keluarga menelusuri keberadaan ibu kandung dari anak 3 anak tersebut.
Hal ini disampaikan Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinsos Kota Denpasar, Anak Agung Ayu Diah Kurniawati kepada Tribun Bali usai peninjauan bersama Dinsos Provinsi Bali di tempat tinggal kakek neneknya, di sebuah rumah bedeng berukuran sekitar satu are yang terletak di Jalan Patih Nambi, Perumahan Telkom Banjar Tulang Ampiang, Ubung Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali.
"Kami masih menelusuri keberadaan ibu kandungnya. Info yang kami terima bahwa ibu kandungnya akan dicari alamatnya di Seririt Singaraja. Kami juga sudah titip pesan agar ipar dan mertuanya mengkondisikan menghubungi ibu kandung dan mempertemukan kembali dengan anak-anak kandungnya, biar tidak melepas anak begitu saja," tuturnya.
Selain itu, ia meminta keluarga yang bersangkutan agar lapor diri ke desa setempat untuk izin tinggal kependudukan sementara karena mereka masih ber-KTP dan KK Singaraja supaya mendapat fasilitas bantuan dari pemerintah kota.
"Maunya kita memulangkan kembali, tapi yang bersangkutan tidak mau pulang karena tidak punya pekerjaan di Singaraja. Kalau tempat tinggal infonya ada, dan mereka ada pekerjaan di sini sebagai buruh petani sawah, serta mengontrak lahan yang ditinggali ini selama 5 tahun, baru ditempati 1,5 tahun, mereka masih harus menghabiskan itu," ujarnya.
Selanjutnya, apabila nantinya ibu kandung bisa bertemu dengan anak-anaknya maka tetap dapat diupayakan bantuan khususnya pendidikan bagi anak-anak yang saat ini bersekolah di Denpasar.
"Untuk bantuan pasti akan difasilitasi melalui pendataan, oleh sebab saat itu kami memerlukan NIK untuk basis bantuan sosial, KTP, KK dan akta bayi Komang masih berada di Singaraja, mereka bisa mendapat bantuan KIP dan bantuan lainnya," jelasnya. (*)