3 Bocah di Denpasar Hidup Penuh Keterbatasan Bersama Kakek Neneknya, Si Sulung Semangat Belajar
Meskipun, kakek dan neneknya hidup dengan penuh kesederhanaan dan keterbatasan di rumah bedeng berukuran sekitar satu are di Jalan Patih Nambi
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Keluarga ini tinggal mengontrak di tanah kosong dengan bangunan rumah semi permanen terbuat dari batako bersama adiknya.
"Jadi kami ada 4 bersaudara, anak pertama perempuan tinggal di Dalung nikah ke Tabanan
Kedua ya ayah dari anak-anak ini, ketiga perempuan nah mereka tinggal bersama kakak perempuan saya ini, dan keempat saya," papar dia.
Karena tidak ingin merepotkan kakak perempuan atau kakak ipar dari ibu anak-anak ini yang dalam kondisi mengandung bayi Komang Budisuari, maka dua bulan sebelum kelahiran, Ketut mengajak ibu dan anak-anak untuk tinggal di rumah bedeng ini bersama kakek neneknya.
"Sudah di sini pas mengandung, dua bulan sebelum melahirkan pindah ke sini," tutur Ketut.
Ketut sementara ini berhenti dari pekerjaan untuk membantu mengasuh ketiga anak ini.
"Saya kuli bangunan sebagai pengayah, proyeknya di Ubung, tapi sekarang tidak kerja dulu, mengasuh anak-anak ini, kalau kerjaannya memang masih ada, tapi saya berhenti sementara, kan kasihan mereka," ungkapnya.
"Penghasilan saya full Rp 660 ribu per Minggu, biasanya kalau gajian ya langsung untuk beli beras kebutuhan keluarga," imbuh dia.
Gede, anak sulung bercita-cita menjadi seorang pebalap motocross, selama pandemi covid-19 ia tak lalai dengan aktivitas belajar dari rumah.
Meskipun dengan kondisi seperti ini, Gede mengaku tetap bersemangat belajar dari rumah di tengah pandemi covid-19 dengan bimbingan paman dan saudara yang seusia dengannya.
"Saya semangat dan senang belajar, kalau pas tugas Bahasa Inggris saya belajar sama kakak yang lebih pintar bahasa Inggris, supaya saya bisa," ucapnya.
Bahkan hampir tak tampak raut kesedihan di wajah Gede dan adiknya, wajah polosnya menggambarkan seolah tak ingin tahu apa yang kini sedang terjadi.
Sore itu Gede bermain layang-layang.
Ia yang masih polos itu tampak gembira bisa menerbangkan layang-layangnya serupa dengan cita-citanya kelak.
Kisah mereka ramai dibagikan ketika Komunitas Taman Hati mengunjungi mereka dan menyerahkan bantuan sembako serta susu formula dan diposting di sosial media.
"Bahkan adik komang reflek minta digendong ke salah satu relawan kami, mungkin adik komang rindu ibunya," tulis akun FB bernama Kadek Widiana itu.