3 Bocah di Denpasar Hidup Penuh Keterbatasan Bersama Kakek Neneknya, Si Sulung Semangat Belajar
Meskipun, kakek dan neneknya hidup dengan penuh kesederhanaan dan keterbatasan di rumah bedeng berukuran sekitar satu are di Jalan Patih Nambi
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tak seberuntung kawan-kawan seusianya, tiga bersaudara Gede Suardika (9), Kadek Sugiadnyana (6,5) dan Komang Budisuari (6 bulan) kini harus melanjutkan hidup tanpa belaian kasih sayang kedua orang tuanya.
Sang ayah Made Restina meninggal dunia sekitar 9 bulan yang lalu akibat sakit serangan jantung dan ibunya sekitar beberapa hari yang lalu pergi meninggalkan mereka bertiga tanpa sebab yang pasti.
Kini ketiga anak itu diasuh oleh sang kakek Pekak Ketut Parta (70) dan nenek Luh Ngebek (66) yang sudah berusia renta serta seorang paman Ketut Artawa (31) yang tulus memberikan kasih sayangnya.
Meskipun, kakek dan neneknya hidup dengan penuh kesederhanaan dan keterbatasan di rumah bedeng berukuran sekitar satu are di Jalan Patih Nambi, Perumahan Telkom Banjar Tulang Ampiang, Ubung Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali.
• Ratusan WNA Dibubarkan Tim Gabungan di Restoran di Canggu, Satpol PP Panggil Manajemen Restoran
Di rumah beratapkan triplek itu kondisinya sangat memprihatinkan, terlihat lubang-lubang menganga di sejumlah titik dindingnya, lantainya pun hanya beralaskan tanah.
Mereka tidur bersama di satu kasur dalam satu kamar yang kondisinya tak layak, sempit dan pengap.
Tak terbayang jika hujan deras mengguyur, sedangkan kakek-nenek di satu kamar sebelahnya dengan kondisi yang serupa.
Untuk tinggal di sana pun mereka menyewa lahan kepada pemilik seluas 3,5 are dengan bangunan rumah bedeng sekitar 1 are, per tahunnya disewa dengan harga satu juta rupiah.
Dengan segala keterbatasan mereka berjuang bertahan hidup, apalagi kebutuhan pendidikan dan keberlanjutan kehidupan 3 anak tersebut kedepan tidaklah sedikit.
Keluarga ini sejatinya berasal dari Banjar Singkung, Desa Sudaji Kecanatan Sawan, Buleleng, Singaraja, Bali, dan tinggal di rumah bedeng di sudut Kota Denpasar sejak satu setengah tahun yang lalu.
Kakek dan nenek hanya merupakan seorang buruh tani di sawah milik orang.
Keluarga lainnya, ada paman mereka, akrab disapa Ketut, bekerja serabutan sebagai kuli bangunan dengan upah Rp 660 ribu per Minggu.
"Ayah mereka meninggal dunia sekitar 9 bulan yang lalu, ibunya sekitar empat hari yang lalu pergi tanpa alasan yang jelas, pamitnya pergi beli bunga untuk sembahyang tapi ternyata tidak pulang-pulang," kata pamannya Ketut Artawa, adik dari ayah anak-anak tersebut saat dijumpai Tribun Bali di lokasi, Selasa (9/6/2020).
• Pasien Positif Covid-19 di Buleleng Bertambah Satu Orang, Sembuh Tiga Orang
Made Restina ayah dari ketiga anak itu meninggal dunia karena serangan jantung, sejak kecil juga hidup dengan kondisi keterbatasan di salah satu kakinya, untuk berjalan harus dibantu dengan tongkat.
Almarhum ayahnya dulu seorang pengrajin layang-layang, sedangkan ibunya membuka warung kecil sederhana.
Mereka dahulu tinggal di kawasan Nuansa Hijau yang masih satu dusun.
Keluarga ini tinggal mengontrak di tanah kosong dengan bangunan rumah semi permanen terbuat dari batako bersama adiknya.
"Jadi kami ada 4 bersaudara, anak pertama perempuan tinggal di Dalung nikah ke Tabanan
Kedua ya ayah dari anak-anak ini, ketiga perempuan nah mereka tinggal bersama kakak perempuan saya ini, dan keempat saya," papar dia.
Karena tidak ingin merepotkan kakak perempuan atau kakak ipar dari ibu anak-anak ini yang dalam kondisi mengandung bayi Komang Budisuari, maka dua bulan sebelum kelahiran, Ketut mengajak ibu dan anak-anak untuk tinggal di rumah bedeng ini bersama kakek neneknya.
"Sudah di sini pas mengandung, dua bulan sebelum melahirkan pindah ke sini," tutur Ketut.
Ketut sementara ini berhenti dari pekerjaan untuk membantu mengasuh ketiga anak ini.
"Saya kuli bangunan sebagai pengayah, proyeknya di Ubung, tapi sekarang tidak kerja dulu, mengasuh anak-anak ini, kalau kerjaannya memang masih ada, tapi saya berhenti sementara, kan kasihan mereka," ungkapnya.
"Penghasilan saya full Rp 660 ribu per Minggu, biasanya kalau gajian ya langsung untuk beli beras kebutuhan keluarga," imbuh dia.
Gede, anak sulung bercita-cita menjadi seorang pebalap motocross, selama pandemi covid-19 ia tak lalai dengan aktivitas belajar dari rumah.
Meskipun dengan kondisi seperti ini, Gede mengaku tetap bersemangat belajar dari rumah di tengah pandemi covid-19 dengan bimbingan paman dan saudara yang seusia dengannya.
"Saya semangat dan senang belajar, kalau pas tugas Bahasa Inggris saya belajar sama kakak yang lebih pintar bahasa Inggris, supaya saya bisa," ucapnya.
Bahkan hampir tak tampak raut kesedihan di wajah Gede dan adiknya, wajah polosnya menggambarkan seolah tak ingin tahu apa yang kini sedang terjadi.
Sore itu Gede bermain layang-layang.
Ia yang masih polos itu tampak gembira bisa menerbangkan layang-layangnya serupa dengan cita-citanya kelak.
Kisah mereka ramai dibagikan ketika Komunitas Taman Hati mengunjungi mereka dan menyerahkan bantuan sembako serta susu formula dan diposting di sosial media.
"Bahkan adik komang reflek minta digendong ke salah satu relawan kami, mungkin adik komang rindu ibunya," tulis akun FB bernama Kadek Widiana itu.
Dinas Sosial Telusuri Keberadaan Ibu dari Ketiga Bocah
Bersamaan dengan liputan wartawan Tribun Bali, terlihat aktivitas dari Dinas Sosial Kota Denpasar berkunjung untuk meninjau langsung kondisi keluarga tersebut.
Kepala Bidang Rehanilitasi Sosial Dinsos Kota Denpasar, Anak Agung Ayu Diah Kurniawati memimpin peninjauan bersama jajarannya.
AA Ayu Diah mengatakan setelah peninjauan ini, segera berkoordinasi dengan Dinsos Buleleng dan Provinsi Bali sebagai tindaklanjutnya, karena secara administratif ketiga anak ini masih terdata sebagai warga di Sudaji, Buleleng.
"Di sini ada anak-anak dan lansia yang perlu mendapatkan perlindungan. Untuk tindak lanjutnya kami koordinasikan dengan Dinsos Provinsi Bali, secara administrasi mereka masih terdata di Sudaji, Buleleng, kami upayakan yang terbaik," katanya
Pihak Dinsos Kota Denpasar mengaku berfokus pada keberlanjutan pemenuhan pendidikan pada anak-anak tersebut karena bagaimanapun pendidikan dasar anak-anak ini kedepannya adalah menjadi tanggung jawab pemerintah.
Gede Suardika (9) naik dari kelas 3 ke kelas 4 sekolah dasar, sedangkan adiknya Kadek Sugiadnyana (6,5) mulai beranjak dari TK ke kelas satu sekolah dasar.
"Fokus kami dengan pendidikan anak-anak, segala keperluan pendidikan kan harus dipenuhi, selain itu tempat tinggal yang layak bagi mereka, mereka kan ngontrak kemungkinan kedepannya mereka akan tersisih dengan kondisi kumuh seperti ini, setidaknya akan dikontrakkan yang lain, kita pikirkan kakek nenek juga," ujar AA Ayu Diah
Dinsos juga mengupayakan koordinasi dengan panti, akan tetapi hal itu jika ada izin dari keluarga (pihak kakek dan nenek), sebab anak-anak ini masih dalam pengawasan kakek nenek.
Dijekaskannya, pemerintah boleh mengambil alih, tapi karena masih ada keluarga yang lain sehingga harus ada koordinasi.
Sebab tinggal dengan kondisi seperti ini kan riskan bagi kesehatan apalagi kondisi sekarang di tengah pandemi covid-19.
"Kami pastikan kondisi sosial seperti ini diupayakan mendapat bantuan. Kalau Program bedah rumah harus sertfiikat sedangkan ini kan mengontrak. Kita upayakan mereka tinggal di lingkungan yang memenuhi kesehatan," bebernya
"Sebagai langkah alternatif bisa dikondisikan dengan panti. Tapi mereka (kakek nenek) masih mau seperti ini, karena sangat sayang sama cucunya yang bayi 6 bulan bahkan mau diasuh oleh sebuah keluarga tidak diperkenankan," imbuhnya
Pada saat kunjungan itu, terjadi momen mengharukan, salah satu perangkat desa setempat, Wayan Sukarta (51) mengaku hatinya tersentuh dan ingin mengadopsi bayi Komang Budisuari yang baru berusia 6 bulan.
Namun sang nenek, Luh Ngebek seakan benar-benar tidak ingin lepas dari cucu yang sangat ia sayangi itu.
"Saya sangat tersentuh, dan istri ingin anak perempuan, anak saya satu laki-laki, saya mau mengasuhnya," ungkap Wayan Sukarta.
Pada kesempatan yang sama, Kadus Batumekaem, Banjar Tulangampiang, Putu Agus Budi Saputra bersama Kelian Adat setempat Wayan Budiasa sepakat untuk terus membantu dan memantau perkembangan serta menjadi fasilitator antara warga tersebut dengan pemerintah agar mengupayakan yang terbaik.
"Melihat kondisi ini kami langsung menyampaikan ke Dinsos, saya juga ke ke DPRD sudah saya ajak untuk atensi langkah-langkahnya. Fokusnya ke ketiga anak ini," ungkap Putu Agus Selasa (9/6/2020) lalu.
Pantauan Tribun Bali di lokasi saat itu, juga terdapat sebuah komunitas relawan datang memberikan bantuan berupa susu formula dan kebutuhan pokok lainnya kepada keluarga tersebut.
Perkembangan terakhir, Kamis (11/6/2020), Dinas Sosial berkoordinasi dengan keluarga menelusuri keberadaan ibu kandung dari anak 3 anak tersebut.
Hal ini disampaikan Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinsos Kota Denpasar, Anak Agung Ayu Diah Kurniawati kepada Tribun Bali usai peninjauan bersama Dinsos Provinsi Bali di tempat tinggal kakek neneknya, di sebuah rumah bedeng berukuran sekitar satu are yang terletak di Jalan Patih Nambi, Perumahan Telkom Banjar Tulang Ampiang, Ubung Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali.
"Kami masih menelusuri keberadaan ibu kandungnya. Info yang kami terima bahwa ibu kandungnya akan dicari alamatnya di Seririt Singaraja. Kami juga sudah titip pesan agar ipar dan mertuanya mengkondisikan menghubungi ibu kandung dan mempertemukan kembali dengan anak-anak kandungnya, biar tidak melepas anak begitu saja," tuturnya.
Selain itu, ia meminta keluarga yang bersangkutan agar lapor diri ke desa setempat untuk izin tinggal kependudukan sementara karena mereka masih ber-KTP dan KK Singaraja supaya mendapat fasilitas bantuan dari pemerintah kota.
"Maunya kita memulangkan kembali, tapi yang bersangkutan tidak mau pulang karena tidak punya pekerjaan di Singaraja. Kalau tempat tinggal infonya ada, dan mereka ada pekerjaan di sini sebagai buruh petani sawah, serta mengontrak lahan yang ditinggali ini selama 5 tahun, baru ditempati 1,5 tahun, mereka masih harus menghabiskan itu," ujarnya.
Selanjutnya, apabila nantinya ibu kandung bisa bertemu dengan anak-anaknya maka tetap dapat diupayakan bantuan khususnya pendidikan bagi anak-anak yang saat ini bersekolah di Denpasar.
"Untuk bantuan pasti akan difasilitasi melalui pendataan, oleh sebab saat itu kami memerlukan NIK untuk basis bantuan sosial, KTP, KK dan akta bayi Komang masih berada di Singaraja, mereka bisa mendapat bantuan KIP dan bantuan lainnya," jelasnya. (*)