Corona di Bali
Terinspirasi Wisman Perancis,Cok Ace Rancang Program Working From Bali untuk Pariwisata Pascapandemi
Ide tersebut sudah digagas oleh Wagub Cok Ace sejak beberapa waktu lalu dan ternyata hal tersebut terinspirasi dari wisawatan mancanegara
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Wema Satya Dinata
Di Tiongkok, tuturnya, sudah banyak perusahaan yang melihat Bali sebagai salah satu lokasi untuk working space, mulai dari perusahaan IT raksasa hingga e-commerce yang memang sudah memberikan keleluasaan bagi karyawannya untuk bekerja, dari manapun.
"Terlebih para ‘digital nomad’ ini punya kecenderungan spend money yang tinggi," kata dia.
Menurut Djauhari, ke depan juga perlu promosi yang signifikan di negara-negara dengan perusahaan raksasa, untuk para pekerja kreatif, desainer, dan mereka yang tidak memerlukan kantor formal.
"Jangan lupakan pula promosi lewat sosial media yang kini punya dampak sangat besar," jelasnya.
CEO Indonesia Bali Chapter, Paulus Herry Arianto mengatakan, dampak pandemi Covid-19 yang menghasilkan kampanye work from home bisa dielaborasikan menjadi work from Bali karena nama "Bali" sudah sebagai destinasi wisata.
"Kenapa memilih Bali, para ‘Digital nomad’ sebenarnya sudah sejak lama memasukkan Bali sebagai salah satu pilihan utama untuk working space, karena cuacanya bagus, living cost terjangkau, kaya sejarah dan tradisi serta dianggap punya aspek keamanan yang cukup," tuturnya.
Selain itu, Bali juga punya keunggulan dengan kebijakan-kebijakan pemerintahnya yang sangat mendukung sektor pariwisata.
Terlebih dalam visi Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini, melihat sektor pertanian dan industri 4.0 sebagai pilar penting mendukung pariwisata.
Dijelaskan olehnya, salah satu survey kepada para pekerja dunia saat ini menunjukkan, 78 persen ingin lebih fleksibel dalam tempat dan waktu kerja, 82 persen ingin kehidupan kerja yang lebih seimbang (less stress) dan 54 persen pekerja akan meninggalkan pekerjaannya saat ini jika memperoleh pekerjaan yang lebih fleksibel.
"Kemudahan dalam pemberian visa atau kebijakan khusus visa untuk digital nomad ini juga sangat penting untuk menunjang era working from Bali ini. Setiap banjar adat harus dapat manfaat dari jenis wisata baru ini dan tiap kabupaten juga hendaknya menyediakan working space khusus," pintanya.
Berdasarkan pengamatan dan perhitungan yang dilakukan olehnya, rata-rata para digital nomad ini minimal menghabiskan USD 1300 per bulan per orang dan jika dihitung per tahun sama dengan USD 15.600 per tahun.
"Jika angka ini dikalikan 100 ribu orang saja, maka potensinya mencapai USD 1,56 miliar atau sebanding Rp 21,4 triliun. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/wakil-gubernur-wagub-bali-tjok-oka-artha-ardhana-sukawati-cok-ace-membuka-webinar-series-5.jpg)