Breaking News:

Cuaca Tidak Menentu, Petani di Subak Selisihan mengeluh Pohon Cabai Layu dan Mati

Cuaca Tidak Menentu, Petani di Subak Selisihan mengeluh Pohon Cabai Layu dan Mati

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Cuaca Tidak Menentu, Petani di Subak Selisihan mengeluh Pohon Cabai Layu dan Mati 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA- Nengah Sudarma (55) Petani di Desa Selisihan Klungkung, mengeluh dengan banyaknya tumbuhan cabai mereka yang layu dan mati. Hal ini dikarenakan cuaca yang tidak kunjung menentu, dan membuat petani setempat kian mengeluh.

Nengah Sudarma sedang memanen cabai di Subak Desa Selisihan, Klungkung, Senin (13/7). Dilahannya yang seluas 20 are, ia tanam dengan pohon cabai rawit dan bunga pacar air. Hanya saja sebagian besar pohon cabainya mulai tampak layu dan bahkan ada beberapa yang mati.

" Sudah susah karena pandemi, tumbuhan cabai juga mati seperti ini. Susah jadi petani kalau kondisinya seperti ini," ungkapnya saat ditemui di Subak Desa Selisihan, Senin (13/7).

Ia mengungkapkan, layu dan matinya tanaman cabai otu dikarenakan cuaca yang tidak menentu. Terkadang saat malam hujan deras, saat siang hari cuaca berbalik menjadi sangat panas. Inilah yang membuat batang dari pohon cabai layu dan mati.

" Kalau sudah seperti ini, tidak bisa disemprot lagi. Pasti layu dan mati," ungkapnya.

Ini pun membuatnya merugi, apalagi saat ini harga cabai juga kurang bagus. Untuk cabai yang masih hijau, ia hanya menjual Rp4000 sampai Rp5000 per Kilogram. Sementara cabai yang sudah merah dijualnya Rp14.000 sampai Rp15.000 per kilogram.

" Ini bisa panen sekarang saja, karena pohon cabainya sudah layu. Kami merugi, harga cabai murah dan belum panen banyak pohon cabai sudah keburu mati," ungkapnya.

Untuk meminimalisir kerugian, petani setempat juga mulai menanam jagung ataupun bunga pacar air.

Kadis Pertanian Klungkung Ida Bagus Juanida menjelaskan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menanam cabai saat musim hujan. Misalnya budidaya cabe pada musim hujan, petani harus memperhatikan jarak tanam yang lebih lebar yakni 50 x 60 cm. Ini bertujuan untuk mencegah dan meminimalisir perkembangan penyakit jamur .

" Petani juga harus membuat bedengan dalam, dan olah tanah harus lebih tinggi 40 x 50 cm. Ini bertujuan agar tanaman tidak layu karena akar tanaman tidak tergenang air. Sistem drainase juga diperhatikan, dengan membuat parit atau got sehingga air bisa mengalir lancar," jelas Juanida.

Selain itu pengaplikasian fungisida dan Insektisida pada musim hujan juga penting, untuk mencegah hama dan penyakit seperti lalat buah. Serta teknik pemupukan yang tepat dan cukup nutrisi juga penting, misal pemberian pupuk calsium agar tanaman lebih sehat.  Pada musim hujan, pemupukan diharapkan dilakukan dengan sistem kocor

" Saat musim hujan, petani juga harus gunakan varietas tahan organisme pengganggu tanaman.  Biasanya di Klungkung,  menggunakan varietas lokal cabe bontok yang tahan penyakit jamur," jelasnya. (Mit)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved