Update Harga Emas Edisi 27 Juli 2020: Naik Jadi Rp 997.000 per gram, Ini Penyebabnya
Harga emas ini berlaku untuk emas 24 karat keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM).
TRIBUN-BALI.COM - Harga emas per hari ini, Senin 27 Juli 2020, tercatat mengalami kenaikan.
Melansir dari laman resmi Logam Mulia, harga emas hari ini Rp 997.000 per gram.
Itu artinya harga emas hari ini naik Rp 8.000 dari harga sebelumnya yakni Rp 989.000 per gram.
Harga emas ini berlaku untuk emas 24 karat keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM).
• Batas Waktu yang Diberikan China Berakhir, Staf Konsulat AS di Chengdu Bersiap Kosongkan Gedung
• Resmi Hadir di Indonesia, Ini Harga dan Spesifikasi Kamera Mirrorless Canon EOS R5 dan R6
• Idul Adha 2020 Sebentar Lagi, Lakukan 7 Kebiasaan Ini Agar Badan Tidak Melar Setelah Lebaran
Sementara, harga pembelian kembali atau buyback emas Antam juga naik Rp 7.000 dan berada di Rp 896.000.
Berikut harga emas batangan Antam dalam pecahan lainnya per hari ini dan belum termasuk pajak:
- Harga emas 0,5 gram: Rp 528.500
- Harga emas 1 gram: Rp 997.000
- Harga emas 5 gram: Rp 4.765.000
- Harga emas 10 gram: Rp 9.465.000
- Harga emas 25 gram: Rp 23.537.000
- Harga emas 50 gram: Rp 46.995.000
- Harga emas 100 gram: Rp 93.912.000
- Harga emas 250 gram: Rp 234.515.000
- Harga emas 500 gram: Rp 468.820.000
- Harga emas 1.000 gram: Rp 937.600.000
• Samsat Kotawaringin Ditutup Setelah Belasan Polisi & Pegawainya Terkonfirmasi Positif Covid-19
• Kronologi Dua Penumpang Toyota Innova Ditemukan Tewas Tanpa Busana di Kapal KMP Nusa Putra
• 5 Ide Bisnis di Tengah Pandemi Covid-19 yang Bisa Kamu Coba
Penyebab harga emas cenderung naik
Meski harga emas kerap naik turun, namun bukan rahasia lagi, emas adalah jenis logam mulia yang paling digemari masyarakat.
Pasalnya selain dapat dipergunakan sehari-hari, emas dianggap sebagai investasi termudah yang dapat dilakukan.
Investasi emas dianggap aman atau risikonya kecil bagi orang awam yang ingin berinvestasi tetapi tidak mau mengambil risiko.
Mengutip pemberitaan Kompas.com (27/4/2020), PT Pegadaian (Persero) melaporkan harga emas naik 21 persen sejak awal 2020.
Seperti dilansir dari Kompas.com dalam artikel 'Mengapa Harga Emas Cenderung Terus Naik?'
Pakar ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi menilai, emas berbeda dengan minyak bumi.
Minyak saat ini tengah mengalami penurunan permintaan yang menyebabkan harga minyak dunia terpuruk.
Adapun emas justru permintaannya meningkat.
“Permintaan emas justru meningkat saat pandemi Covid-19 sehingga menaikkan harga emas,” ujarnya dihubungi Kompas.com, Sabtu (25/7/2020).
Menurutnya saat situasi seperti sekarang, investasi di pasar uang dan pasar modal semakin tak menarik, sehingga menurutnya emas merupakan alternatif investasi yang lebih rendah risiko dibanding investasi lain.
Ia mengatakan, untuk masyarakat yang ingin berinvestasi dengan dana besar maka sebaiknya melakukan investasi berwujud emas batangan.
“Emas batangan lebih liquid and marketable (mudah dicairkan dalam bentuk uang),” tuturnya.
Adapun jika masyarakat hanya memiliki dana kecil maka untuk investasi bisa diwujudkan dalam bentuk emas perhiasan yang bisa dipakai dan dijual saat membutuhkan.
Sementara itu, peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan emas saat ini dijadikan pilihan karena aset-aset untuk instrumen investasi yang lainnya tengah menghadapi ketidakpastian.
Meski demikian menurutnya kenaikan ini bersifat fluktuatif.
“Permintaan juga penawarannya juga ikut mengalami fluktuatif karena terkait perkembangan ekonomi di beberapa negara," kata dia saat dihubungi terpisah.
Menurutnya bagaimana kondisi negara-negara yang kasusnya naik turun ikut memengaruhi harga emas.
“Dampak pandemi ini kan luar biasa sehingga orang juga banyak yang membutuhkan likuiditas sehingga banyak yang melepas emas,” ucapnya.
Ke depan, menurutnya nilai emas kemungkinan tetap fluktuatif, akan tetapi menurutnya memang emas paling aman dibandingkan aset-aset yang lain.
“Ke depan tetep fluktuatif tapi secara nature, emas ini yang paling aman dibanding semua aset, cuma kenaikan relatif lebih lambat dibanding di pasar uang atau pasar modal,” ungkapnya.
Akan tetapi menurutnya emas relatif stabil dibanding pasar uang atau pasar modal yang semakin tak pasti.
Diberitakan Kompas.com (21/2/2020), menyimpan emas yang nilainya cenderung meningkat disebut dengan safe haven.
Mengutip Investopedia, Jumat (21/2/2020), safe haven adalah investasi aset yang nilainya bisa bertahan bahkan terus meningkat di tengah gejolak pasar.
Banyak investor di dunia berpikir untuk menaruh investasinya di pasar, namun menyimpan sebagian asetnya dalam bentuk logam mulia untuk menghindari kerugian terlalu besar jika terjadi penurunan pasar.
Artinya, meski untungnya terbilang kecil, emas dijadikan cadangan agar aset tak benar-benar tergerus gejolak keuangan dunia.
Kenaikan nilai emas sendiri di mata investor bukan lebih karena dianggap sebagai keuntungan, namun untuk menjaga aset mereka dari gerusan inflasi dalam jangka waktu yang lama.
Masih dari sumber yang sama, emas diartikan sebagai asuransi bagi beberapa investor.
Ketika situasi dinilai semakin memburuk, banyak investor akan menumpuk lebih banyak emas yang membuatnya harganya melonjak saat krisis.
Ini karena nilai emas tidak dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga dan kebijakan moneter dan fiskal lain dari bank sentral dan pemerintah.
Ini berbanding terbalik dengan portofolio berupa saham dan obligasi.
Bisa dikatakan, harga emas malah akan naik ketika merespons ketidakstabilan pasar.
Meski harganya terus mengalami peningkatan, siapa bilang investasi emas tanpa risiko.
Menyimpan emas dalam jumlah besar membutuhkan biaya tinggi seperti menitipkannya di brankas bank.(*)
Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Update Harga Emas Hari ini 27 Juli 2020: Naik Jadi Rp 997.000 per gram, ini Penyebab Harga Emas Naik,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/foto-ilustrasi-emas-batangan-untuk-investasi.jpg)