Kepala Intelijen AS Sebut China, Rusia, dan Iran Berusaha Pengaruhi Pilpres AS 2020
Kepala intelijen AS mengatakan bahwa Rusia ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2016 untuk membantu kampanye Presiden Donald Trump
TRIBUN-BALI.COM - Kepala intelijen terkemuka Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa China, Rusia, dan Iran termasuk negara-negara yang berusaha memengaruhi pemilihan presiden (Pilpres) AS tahun 2020 ini.
Melansir BBC, sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kontra- intelijen AS mengatakan, negara-negara asing itu menggunakan "langkah-langkah pengaruh terselubung dan terbuka" untuk memengaruhi pemungutan suara.
Negara-negara ini "memiliki preferensi untuk siapa yang bakal memenangi pemilihan," tambahnya.
Kepala intelijen AS mengatakan bahwa Rusia ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2016 untuk membantu kampanye Presiden Donald Trump.
• VIRAL Penampakan Buaya Raksasa Diangkut dengan Buldozer, Kepala dan Badan Dikubur Terpisah
• KUA Dan PPAS Badung Tahun 2021 Disepakati, Bupati Giri Prasta Apresiasi Masukan Dewan
• Lyon Menjadi Mimpi Buruk Cristiano Ronaldo, Disingkirkan Dua Kali di Liga Champions
Rusia membantah tuduhan tersebut.
Ditanya pada konferensi pers pada Jumat (7/8/2020) mengenai apa yang dia rencanakan tentang laporan campur tangan pemilu, Presiden Trump mengatakan, pemerintahannya akan "mengawasi" soal itu.
Pengumuman itu muncul di tengah klaim oleh Trump tentang bahaya surat suara melalui kotak surat suara.
Dia telah menyarankan bahwa pemungutan suara ditunda demi mencegah "pemilihan yang paling tidak akurat dan curang dalam sejarah", yang memicu reaksi balik, bahkan dari kalangan anggota partainya sendiri.
Hal itu juga menyusul keluhan dari anggota parlemen Demokrat bahwa badan intelijen AS tidak merilis informasi kepada publik tentang campur tangan asing dalam pemungutan suara tahun ini.
Sebagai presiden dari Partai Republik, Trump berusaha untuk memenangi masa jabatan kedua.
Penantangnya adalah kandidat Demokrat dan mantan Wakil Presiden Joe Biden.
Apa yang disebut dalam pernyataan intelijen soal campur tangan asing?
Kepala kontraintelijen nasional dan Pusat Keamanan (NCSC), William Evanina merilis sebuah pernyataan pada Jumat kemarin.
Pernyataannya berbunyi, negara-negara asing mencoba untuk memengaruhi preferensi pemilih, mengubah kebijakan AS dengan "meningkatkan perselisihan" dan "merusak kepercayaan rakyat Amerika dalam proses demokrasinya".
Namun, kepala kontraintelijen menambahkan bahwa akan "sulit bagi musuh kita untuk mengganggu atau memanipulasi hasil pemungutan suara dalam skala besar."
• Lakukan 3 Hal Ini, Trik Mengajari Anak Soal Keuangan yang Tidak Membosankan
• Varane Akui Dua Blundernya Penyebab Real Madrid Tersingkir di Liga Champions, Ini Cuplikan Videonya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kombinasi-foto-mantan-wakil-presiden-amerika-serikat-joe-biden-kiri-dan-presiden-donald-trump.jpg)