Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Apakah Segalanya Harus Siap, dan Baru Berani Menikah?

Anggapan bahwa pernikahan justru akhir atau finish dalam relasi dua anak manusia yang berlainan jenis justru tidak tepat.

Tayang:
Penulis: Sunarko | Editor: Wema Satya Dinata
dok.Tribun Bali
Prof. Dr. dr. LK Suryani, SpKJ(K) dan Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K) MARS, psikiater dari Suryani Institute for Mental Health, menjadi narasumber dalam bincang mingguan “Sanjiwani” (Santapan Jiwa dan Jasmani) di Tribun Bali yang disiarkan, Selasa (18/8/2020). 

“Ada juga kejadian seperti itu. Perceraian justru dikehendaki, karena ingin mendapat status sebagai janda muda. Ini kan absurd,” ucap dokter Cok Bagus.

Biaya Swab Test Mandiri akan Segera Ditetapkan Satu Tarif

Lyon Vs Bayern Muenchen, Modal Singkirkan 2 Tim Besar, Pelatih Olympique Lyon Pede Lawan Muenchen

Ini 4 Alasan Kenapa Cewek Jomblo Kebanyakan Adalah Cewek Kuat, Memiliki Pemikiran yang Tidak Biasa

Mengenai apakah segalanya harus siap semua dan baru memutuskan menikah, dokter Cok Bagus mengatakan bahwa dewasa ini yang banyak jadi pertimbangan adalah kesiapan dari sisi ekonomi.

Menurut dia, tentu saja kesiapan ekonomi sebelum membangun rumah tangga merupakan hal penting.

Namun, lanjut dokter Cok Bagus,  tidak berarti seseorang harus menunggu ekonominya mapan dan baru memutuskan menikah.

“Kalau menunggu ekonomi mapan, ya tidak jelas dan lama. Ukuran mapan itu apa? Kan bisa beda orang perorang. Apalagi berusaha mengejar gengsi untuk bisa adakan resepsi pernikahan yang mewah, itu justru tidak perlu jika di luar jangkauan kemampuannya yang wajar,” kata dokter Cok Bagus.

Dalam hal ini, Prof. LK Suryani menambahkan agar dana untuk resepsi bisa dialihkan untuk menyicil beli rumah atau sebagai tabungan bagi dana pendidikan bagi anak kelak. Resepsi pernikahan sewajarnya saja atau yang terjangkau kemampuan. Jangan terkecoh oleh kesan dan gambaran resepsi glamor seperti yang muncul di medsos-medsos.

Baik dokter Cok Bagus maupun Prof. LK Suryani menekankan, keluarga yang tidak harmonis, apalagi penuh konflik, akan menelurkan generasi yang potensial meniru atau mereproduksi masalah yang sama yang “diwarisi”-nya dari orangtuanya. Lebih lanjut tentang bagaimana membangun pernikahan yang bahagia, ikuti video wawancara "Sanjiwani" di bagian lain dari halaman berita ini(*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved