Apakah Segalanya Harus Siap, dan Baru Berani Menikah?

Anggapan bahwa pernikahan justru akhir atau finish dalam relasi dua anak manusia yang berlainan jenis justru tidak tepat.

Penulis: Sunarko | Editor: Wema Satya Dinata
dok.Tribun Bali
Prof. Dr. dr. LK Suryani, SpKJ(K) dan Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K) MARS, psikiater dari Suryani Institute for Mental Health, menjadi narasumber dalam bincang mingguan “Sanjiwani” (Santapan Jiwa dan Jasmani) di Tribun Bali yang disiarkan, Selasa (18/8/2020). 

TRIBUN-BALI.COM - Pernikahan ternyata barulah start atau awal dalam hubungan dua anak manusia. 

Sebagian anggapan yang menyebut bahwa pernikahan justru finish atau penutup dari relasi pasangan yang berlainan jenis, sehingga bangunan keluarga dianggap sebagai barang jadi yang tinggal pakai, itu sangat tidak tepat.

Demikian antara lain yang diungkapkan oleh Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K) MARS, psikiater dari Suryani Institute for Mental Health, dalam bincang mingguan “Sanjiwani” (Santapan Jiwa dan Jasmani) di Tribun Bali  yang disiarkan, Selasa (18/8/2020).

Selain dokter Cok Bagus, bincang “Sanjiwani” juga menghadirkan narasumber Prof. Dr. dr. LK Suryani, SpKJ(K), psikiater senior Bali.

Korsel Khawatirkan Gelombang Kedua Covid-19, Lima Hari Berturut-turut Ada Penambahan Kasus 3 Digit

Kantor BI di Bali Layani Penukaran UPK Rp 75 Ribu secara Drive Thru

Ini 5 Klasifikasi Kasus Covid-19 di Indonesia, Tanpa Gejala Hingga Kritis

Dijelaskan oleh dokter Cok Bagus, sesungguhnya pernikahan adalah justru awal untuk membangun sebuah keluarga.

Sebab, dalam pernikahan bertemu dua pribadi yang berbeda, termasuk juga dua keluarga yang berbeda, baik dari pihak istri maupun suami. Bahkan juga bisa pula perkawinan itu adalah bertemunya dua budaya atau kultur yang berbeda.

“Oleh karena itu, pernikahan merupakan sebuah proses untuk mematangkan dan mendewasakan pasangan. Bahkan, dalam pandangan budaya kita, sebetulnya pasangan suami-istri itu tidak dipisahkan oleh maut. Maut pun tidak memisahkan mereka kalau kita mempercayai bahwa manusia merupakan makhluk spiritual, yang artinya memiliki spirit atau ruh,” ungkap dokter Cok Bagus.

Jika perkawinan dianggap sebagai sebuah proses, kata dia, maka pasangan akan berusaha saling belajar, saling memahami serta mengerti satu sama lain. Bukan malah membesar-besarkan perbedaan.

Sementara itu, Prof. LK Suryani mengingatkan agar perkawinan tidak dilakukan dengan terpaksa, hanya karena merasa tidak enak dengan penilaian atau standar sosial di lingkungannya.

“Misalnya, untuk perempuan, karena takut dibilang tidak laku oleh lingkungannya, lantas dia buru-buru menikah dan tanpa pertimbangan. Jangan sampai begitu,” kata Prof. LK Suryani.

Ia mengungkapkan, sebelum menikah, tetap harus dipertimbangkan bagaimana latar belakang calon pasangan, keluarganya, karakternya dan lain sebagainya.

“Sebab, selain untuk membangun keluarga yang bahagia, pernikahan juga untuk menghasilkan generasi penerus yang berkualitas. Jika pernikahannya tanpa pertimbangan, maka bisa mudah terjadi konflik dalam rumah tangga. Dampak konflik rumah tangga bisa luas, termasuk terhadap anak. Bahkan bisa memicu gangguan jiwa,” imbuh Prof. LK Suryani yang juga tokoh meditasi di Bali.

Bagi yang sudah terlanjur menikah dan ternyata mengetahui cukup banyak perbedaan diri dengan  pasangannya, Prof LK Suryani menyarankan agar berusaha pertama-tama menerima dulu kenyataan itu, dan  memandang kesulitan-kesulitan yang dihadapi sebagai tantangan dalam perjuangan. Nanti, kata dia, buah manis perjuangan itu akan dipetik.  

"Intinya, pernikahan itu tetap dimaknai sebagai proses yang terus-menerus untuk makin mematangkan diri," kata Prof. LK Suryani

Dokter Cok Bagus kemudian mengungkapkan adanya fenomena baru, yang juga ditemukan terjadi belakangan ini. Yaitu menikah hanya untuk “batu loncatan”, karena yang dikejar adalah status menjadi janda muda.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved