Breaking News:

PT. ABS Minta Waktu Tiga Bulan Kepada Dinas Lingkungan Hidup Buleleng untuk Perbaiki IPAL

PT. Anugrah Bersama Sukses (ABS) meminta waktu selama tiga bulan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng

Istimewa
Suasana peternakan babi PT ABS 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA- Salah satu perusahaan ternak babi terbesar di Buleleng, PT. Anugrah Bersama Sukses (ABS) meminta waktu selama tiga bulan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng, untuk memperbaiki instalasi pembuangan air limbah (IPAL).

Permohonan ini pun akan dikaji terlebih dahulu oleh DLH Buleleng.

Kepala DLH Buleleng, Gede Ariadi Pribadi ditemui Selasa (25/8/2020) mengatakan, batas waktu yang diberikan kepada PT. ABS untuk memperbaiki IPALnya sejatinya berakhir pada 8 Agustus kemarin.

Namun belakangan, perusahaan tersebut mengirimkan surat kepada DLH Buleleng agar diberi perpanjangan waktu hingga tiga bulan ke depan untuk memperbaiki IPAL tersebut, dengan alasan masih terkendala anggaran karena sempat terserang virus ASF.

Dua Rumah Sakit Pratama di Buleleng Diusulkan Jadi Tipe D

Vicon dengan Wakapolri Terkait Penanganan Covid-19, Kapolres Badung Akan Gencar Lakukan Gebrak Pasar

Disdikpora Bali Telah Siapkan Mekanisme Pembelajaran Tatap Muka di Masa Pandemi Covid-19

"Kami melihat juga sudah ada upaya dari PT ABS dengan melakukan pengurasan bak IPAL 2 sampai bak 5. Namun demikian akan kami kaji dulu bersama tim kami diinternal, dan akan kami sampaikan ke Bupati Buleleng, apakah boleh diperpanjang waktunya atau tidak. Kami butuh waktu sekitar satu minggu lah untuk mengkaji ini" ucap Ariadi.

Ariadi pun menjelaskan, izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dari PT ABS sejatinya sudah sesuai dengan syarat yang ditentukan.

Hanya yang masih menjadi permasalahan dari perusahaan yang terletak di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali ini ialah pengelolaan limbah cairnya, sehingga banyak masyarakat yang tinggal di daerah sekitar perusahaan kerap kali mengeluh dengan bau kotoran babi yang ditimbulkan.

"Kami sudah beberapa kali memberikan pembinaan, agar limbah yang dihasilkan dikelola dengan baik, agar limbah cair yang dibuang ke lingkungan itu sudah memenuhi standar baku mutu lingkungan, namun PT. ABS belum melakukan hal itu. Sekarang, managemen PT. ABS sudah baru, dan kami melihat sudah ada itikad baik dari pengelola untuk menyelesaikan IPAL-nya. Namun ini akan kami kaji dulu diinternal," jelasnya.

Bila saja PT. ABS tidak memperbaiki IPAL-nya, maka izin AMDAL-nya pun juga akan dicabut.

Sehingga PT. ABS tidak diperbolehkan lagi untuk beroperasi.

Ariadi menyebut, pasca diserang virus ASF jumlah babi yang dipelihara di PT. ABS sisa sekitar 30 ekor, dari jumlah kapasitas 1.800 ekor.

"Kalau pengelolaan limbahnya sudah dilakukan dengan benar, sesuai dengan peraturan lingkungan hidup, maka tidak ada peluang lagi dari masyarakat menggugat PT. ABS karena sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Artinya perusahaan itu bisa berinvestasilah," tutup Ariadi.

Sementara dari pihak managemen PT. ABS hingga berita ini ditulis tidak dapat dikonfirmasi, dan tidak membalas pesan yang dikirim oleh wartawan Tribun Bali. (*).

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved